Untuk meningkatkan kapasitas bandara yang dinilai sudah tidak memadai, PT Angkasa Pura II membangun terminal baru yang disebut Terminal 3 atau T3.
Hari Kamis kemarin, 21 Mei, gw pulang ke Bogor dari Jogja naik pesawat. Alasan kenapa gw pulang sebenarnya berawal dari ajakan beberapa temen yang mau pulang tanggal 21 Mei. Sebutlah mereka bernama Galih dari Bekasi, Latief dari Tangerang sama Ryan dari Jakarta (nama asli loh). Awalnya gw gak ada niat pulang karena pemilu kemarin gw udah pulang, tapi begitu melihat bahwa hari Kamis libur ditambah Jumat ga ada kuliah (masa?) dan hari Sabtu dan Minggu kosong, gw jadi berminat buat ikut. Ditambah hari Sabtu ada Smansaday lagi. Makanya gw pun memutuskan buat pulang lagi! Oke, rencana kita pulang hari Kamis dan balik lagi hari Senin. Iseng-iseng lah kita cari tiket promo. Eh, eh, dapet lah kita tiket promo, yeah! Air Asia hari Kamis, tanggal 21 Mei 2009, penerbangan sore harga tiketnya IDR 197.000. Yah, karena belinya di agen tiket kena charge lah jadinya IDR 217.000. Perlu diketahui kalau tiket promo semakin jauh hari kita memesan harganya semakin murah, bisa sampe hanya IDR 35.000 loh. Cuma, namanya tiket promo kan non-refundable ticket, jadi kalau pas hari keberangkatan kita ada urusan mendadak dan ngebatalin tiket, uang kita hangus lah. Tiket Air Asia ini gw beli 2 minggu sebelum keberangkatan, sebelumnya waktu gw balik ke Jogja dari Bogor bulan lalu, gw beli tiket Lion Air H-3 sebelum keberangkatan harganya cuma IDR 270.000. Makanya kita mesti pinter-pinter nentuin waktu kalau mau cari tiket promo. Lalu penerbangan sore lebih murah daripada penerbangan sore karena penerbangan sore umumnya cuacanya kurang baik. Nah, kalau gw naik kereta api eksekutif kayak Bima dan Taksaka, budget yang gw keluarin sekitar IDR 190.000-220.000 dengan waktu perjalanan sampai di Stasiun Gambir 8 jam, belom ditambah buat KRL Pakuan Ekspress. Sedangkan naik pesawat dengan harga lebih mahal sedikit tapi lebih efisien karena hanya dalam 1 jam sudah sampai di Cengkareng.
Hari-H, kita memutuskan buat cari tumpangan sendiri-sendiri ke Bandara. Gw numpang sodara gw buat nganterin ke airport naik motor, daripada naik taksi keluar IDR 35.000, toh gw gak bawa bagasi ini. Sampe di Bandara Adisutjipto, check in, sholat dan bla bla bla, akhirnya kita boarding jam 16.30.

Air Asia menggunakan pesawat baru Airbus jenis A320. Umumnya maskapai penerbangan pake pesawat Boeing 737-400. Lion Air kemarin gw naikin pesawatnya Boeing 737-900 ER, pesawat keluaran Boeing terbaru juga. Nah, kebetulan gw kepingin ngerasain gimana rasanya naik Airbus. Secara umum sih sama saja, tapi bunyi mesin turbin Rolls-Royce pada A320 lebih halus dari bunyi mesin Boeing 737-400. Gw lebih suka bunyi mesin General Electric pada Boeing 737-400 karena suaranya lebih menggelegar.

Selama penerbangan, cuaca kurang bersahabat dan terkadang pesawat mengalami turbulensi. Dengan keadaan pesawat kurang stabil karena turbulensi, ditambah ibu-ibu yang duduk di sebelah gw zikir sambil pegang tasbih dengan sangat khusyuk, gw sempat was-was dan berprasangka buruk bakal ada apa-apa, untunglah pesawat mendarat dengan selamat dan sampai on-schedule.


Terminal 3! Akhirnya gw bisa ngerasain terminal baru di Bandara Soetta ini. Terminal yang baru selesai dibangun dan diresmikan bulan April 2009 ini memiliki arsitektur modern dengan konsep eco-futuristik, sebuah desain modern dengan konsep yang ramah lingkungan. Konsep desain yang sama dengan arsitektur Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Menurut gw, dari segi desain, terminal ini lebih bagus daripada desain KLIA. Terminal 3 ini baru dioperasikan 2 maskapai penerbangan, yaitu Indonesia Air Asia dan Mandala Airlines. Bangunan berbentuk huruf L, terdiri atas 2 lantai. Lantai 1 untuk Kedatangan dan Lantai 2 untuk Keberangkatan.


Turun dari pesawat kita berjalan masuk ke terminal dan langsung dihadapkan ke ruang Baggage Claim (Pengambilan Bagasi) yang dilanjutkan ke terminal kedatangan. Fasilitas yang sudah tersedia antara lain layanan Transit, Lost And Found, Information Centre, layanan internet dan layanan standar bandara pada umumnya. Kelebihannya disini ada fasilitas air minum gratis. Sayangnya tenant pengisi tempat makan disini masih sedikit, baru ada Circle-K, J.Co dan CFC. Gw yang waktu itu kelaparan karena belom makan akhirnya membeli nasi teriyaki di CFC dengan minum dari fasilitas air minum gratis, kere banget yaks! Akhirnya kita berpisah dengan pulang ke rumah masing-masing dan gw naik Damri ke Bogor.
Posted by Opan 


