Tempat Makan Di Bawah Rp 10.000,00 Sekitar Kampus (Part I)

June 29, 2009

Bagi gw sih Hidup Buat Makan bukan Makan Buat Hidup

Namanya daerah sekitar kampus, penjaja makanan dan minuman pasti menjajakan makanan dan minuman dengan harga di bawah rata-rata harga umumnya sebab pasar yang disasar adalah para mahasiswa kost-kostan dimana kondisi keuangannya terbatas. Hal ini berlaku di semua daerah kampus. Tapi, bukan berarti dengan harga murah, rasa masakan menjadi dikorbankan. Gw kurang setuju dengan ungkapan “Nek mahasiswa kui sing penting wareg, dudu penak’e”, kalau gw sih “Sing penting wareg, murah karo penak”, itu mah semua orang juga maunya begitu.
Jogja terkenal dengan wisata kulinernya, hali ini juga berlaku di kawasan Bulaksumur dan sekitarnya (Kampus UGM, UNY dan Universitas Sanata Dharma). Selama pengalaman gw berburu masakan berkualitas, gw mau berbagi sedikit rekomendasi tempat-tampat makan enak. Gratis lho, kalo di buku-buku rekomendasi tempat makan kan mesti bayar. Tempat makan gak disusun berdasarkan kategori karena post ini masih bersambung. Berikut yang udah pernah gw coba :

Sarapan Pagi
1. SGPC Bu Wiryo
Lokasi : Jl. Agro, Selokan Mataram, Belakang Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan.

SGPC atau Sego Pecel (Nasi Pecel) Bu Wiryo yang buka sejak 1959 ini sudah sangat terkenal. Banyak orang dari luar kota yang datang untuk mencicipi nasi pecel disini. Disini juga jadi langganan tokoh besar seperti Pak Boediono dan Andi Malarangeng sewaktu kuliah di UGM dulu. Campuran sayurnya hanya kacang panjang, tauge dan bayam yang disiram sambel kacang. Bagi gw, kayak Bondan bilang, rasanya Maknyuss! Selain itu, telor mata sapi yang dibuat disni benar-benar jernih tanpa gosong. Menu lain yang jadi andalan adalah Jus Tomat. Sayang, karena pamornya yang naik, maka harganya juga ikut naik. Sepiring nasi pecel harganya Rp 6.000,00, kalau ditambah telur, tambah Rp 3.000,00. Sudah tidak harga anak kost lagi.

2. Soto Sagan
Lokasi : Jl. Dewi Sartika, depan Warung SS Sagan
Lapaknya berupa warung tenda yang cuma buka tiap pagi. Soto yang disajikan berupa soto ayam dengan kuah santan dan segala atributnya. Rasanya gurih, dan kuahnya yang kental menjadi favorit meskipun kadang-kadang bumbunya kurang terasa. Harga soto Rp 4.000,00 dengan es teh/es jeruk Rp 1.000,00 dan Rp 500,00 untuk parkir kalau bawa kendaraan.

3. Bubur Ayam Jakarta
Lokasi : Jl. Agro, Selokan Mataram, depan Cheers Cafe.
Namanya jualan bubur ayam ya pasti cuma buka pagi, paling lambat tutup jam 11 siang. Bubur disini jadi langganan gw dan teman-teman selain karena rasanya enak, banyak mahasiswi cantik anak ekonomi, fisip atau psiko yang sarapan pake hot pants gitu, hehehe… Buburnya berisi suwiran ayam, cakwe, kacang dll. Seperti bubur lainnya, tapi bubur disini lebih terasa bumbu dan kuahnya, gak seperti bubur yang lain, terutama bubur di Burjo. Harga bubur ayam+es teh/es jeruk adalah Rp 4.500,00 ditambah Rp 500,00 buat parkir kalau bawa motor.

Sisanya ntar gw update lagi deh, soalnya masih kekurangan info mengenai tampat makan yang udah gw jajal.


Dimas Diajeng Teknik Sipil

April 23, 2009

Dalam memperingati Hari Kartini, di Teknik Sipil diadakan serangkaian acara yang bernama “All The Ladies”.

Salah satu rangkaian dari acara itu adalah pemilihan Dimas-Diajeng teknik sipil, semacam pemilihan Abang-None atau Mojang-Jajaka gitu, tapi ini cuma tingkat jurusan, jadi bukan acara besar juga lah. Dari 8 pasangan yang ikut berkompetisi, gw ikut sebagai salah satu peserta. Bagaimana ceritanya gw yang ga pernah tampil di muka umum ini bisa ikutan? Kita simak runtutan ceritanya di bawah ini.

Awal Mula

Semua berawal ketika UTS Statistika dan Probabilitas, UTS terakhir, selesai. Seorang teman sekelas yang bernama Hikmah sedang bete mukanya karena temennya yang lain, namanya Tata, nyuruh-nyuruh dia buat ikutan Dimas-Diajeng buat ngewakilin kelas B (kelas gw), sedangkan dia sendiri ga mau. Gw yang lagi lewat gitu tiba-tiba dikasihin kertas sama dia yang ternyata kertas formulir pendaftaran Dimas-Diajeng. Dan secara tiba-tiba (lagi) gw yang disuruh-suruh sama Tata buat ikutan.

“Van, kamu ikutan ya bareng Hikmah buat jadi Dimas-Diajeng ngewakilin kelas B?”

“Dimas-Diajeng?Semacam Abang-None gitu?”, jawab gua.

“Iya, ayo dong buat kelas B!!”

“Kenapa mesti aku (kalo ngomong sama orang non-Jabodetabek mesti pake aku-kamu), yang lain aja lebih cocok kayak c Mr. X”, bales gw lagi.

“Ayo dong, soalnya ga ada yang lain kamu sama dia sama-sama tinggi, jadi cocok,”

Gw yang tidak berminat, berkata, “Tuh, c Hikmah-nya ga mau, jadi ga usah ya…”.

Pembicaraan hari itu pun berakhir.

Hari Selasa, H+3 pasca obrolan di atas dan H-1 acara pemilihan Dimas Diajeng, gw pergi ke Toko Buku Toga Mas mencari kado ulang tahun buku bacaan. Di tengah asik-asiknya membaca, tiba-tiba c Hikmah nelpon nanya persiapan gw buat besoknya. Gw spontan bingung, besok apanya? Terus dijawab, “Dimas-Diajeng!!”. Oh sh*t!!! Gw yang jelas-jelas keberatan buat ikutan acara kayak gitu karena gw ga bisa ngomong di depan ditambah mendadak begini otomatis menolak matang-matang mentah-mentah. Tapi, c Hikmah terus memaksa ditambah temen-temen sekelas nyuruh-nyuruh, akhirnya gw pun meng-iya-kan secara ga langsung.

Persiapan

Dresscode-nya adalah Batik. Jadi, ga masalah buat gw, tinggal memakai Batik Pekalongan yang gw punya itu. Tapi c Hikmah ga punya dan dia ngajakin buat nyari batik ke Mirota Batik. Aduh, buat acara sekali aja pake beli, padahal di Mirota Batik harganya kisaran 80-200 ribuan. Akhirnya kita berangkatlah secara terpisah. Setelah sampe di Mirota Batik, dia sms, “Nanti jam 4 jemput di kostan ya, tadi dompetnya ketinggalan, hheee…”, Masya Allah….apa salah hamba-Mu ini ya Allah. Menunggu jam 4, gw yang udah di Mirota Batik pun melanjutkan saja ke dalam toko, mencari kado ulang tahun satu set Poker Wayang. Pada akhirnya karena ada bentrokan jadwal antara gw dan Hikmah, ga jadilah kita mencari batik bersama dan Hikmah pun mencari batik sendiri atau sama siapalah.

Hari-H

Semalam c Hikmah bilang masing-masing dari kita suruh buat 200 kata tentang diri sendiri dan tentang wanita zaman sekarang, ada di formulir pendaftaran. Bodohnya, tanpa membaca formulir, 200 kata yang harusnya diketik itu gw anggap sebagai bahan pidato, jadi gw cuma mengingat-ingat di kepala aja tanpa ditulis. Toh, gw lagi sibuk bikin Peta Kontur.

Paginya, gw jemput Hikmah di kostannya. Setelah tahu kalau 200 kata itu mesti diketik, keadaan jadi panik. Rencana diubah dari perjalanan ke kampus menjadi ke warnet. Saking buru-burunya, sambil ngetik, sambil ganti baju pake batik dan disisirin c Hikmah. Setelah selesai kita pun berangkatlah ke kampus. Di sini gw bener-bener ga ada persiapan, bahkan gw ga melampirkan piagam. Eh, tapi emang gw punya prestasi apa?

Acara diadakan di Ruang Sidang Biru JTSL FT UGM. Pada saat acara, kita kebagian nomor urut 2. Ga habis-habis dah Bad Luck gw tuh. Pasangan pertama nampilin puisi. Spontan kita yang punya persiapan buat apresiasi seni langsung panik. Secara dadakan, gw bikin aja semacam renungan tentang wanita (temanya tentang wanita), isinya gw ambil dari artikel yang gw pernah baca waktu SMA dulu.

Oke. Akhirnya kita maju. Pertama dimulai dengan perkenalan, presentasi tentang profil diri sendiri, prestasi dan dilanjutkan dengan apresiasi seni. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Lalu gw dan Hikmah diberi pertanyaan masing-masing. Gw dapet pertanyaan, “Apakah hubungannya lingkungan dengan manusia?”. Gw jawab aja dengan bla…bla…bla..yang jelas secara singkat, singkat sekali malah sampe MC-nya nanya, “Sudah segitu aja? Yakin?”. Secara keseluruhan penampilan kita lumayan baiklah. Setidaknya, tidak memalukan, menurut gw. Perkara menang c gw gak peduli. Syangnya, gw ga ikut acara sampai akhir. Soalnya seselesai kita tampil tadi bertepatan dengan waktu kuliah Kalkulus II. Dan gw lebih memilih ikut kuliah…..


ROBOT AND ROBOTICS

February 22, 2009

dsc00561

Ini hanyalah sebuah sebuah post ringan yang iseng gw buat tentang pameran robot yang ada di Taman Budaya Yogyakarta. Bukan pameran skala besar sih, yang dipamerkan juga nggak banyak, tapi bagi gw cukup interest karena karya-karya di sini cukup unik.
Kalo yang namanya pameran di Taman Budaya, biarpun judulnya “Robot Robotics” , pasti isinya benda-benda berbau seni. Gw juga ga mengharap isinya robot-robot canggih. Setelah gw liat, di situ dipamerkan macam-macam action figure tentang robot. Karakter robot mainan macam Gundam, Transformer, Minibots pastilah ga diragukan keberadaannya di sini. Banyak etalase yang majang robot-robot karakter buatan Amerika, Jepang bahkan dalam negeri. Yang menarik, gw liat ada robot dari bahan daur ulang dari kotak bekas lem dan susu, yah sebuah seni rupa lah. Lumayan unik. Ada juga patung sosok Kamen Raider, ya kalo jaman gw kecil sih namanya Satria Baja Hitam. Lain-lainnya pajangan artikel tentang robot dan lukisan-lukisan robot berukuran besar lengkap dengan deskripsinya sesuai imajinasi sang pelukis.

dsc00560
Intinya adalah pameran ini termasuk pameran seni, yang mengangkat tema tentang robot. Unsur utama di sini yang ditekankan bukan dari sisi science-nya, tetapi ruang imajinasi kita dan fantasi tentang robot itu sendiri. Lukisan-lukisan tentang robot ditampilkan imajinatif. Pelukis menunjukkan habis-habisan daya imajinasi dari lukisannya tentang robot. Ada lukisan berjudul “Pregnancy”, tentang robot pengganti manusia dalam mengandung bayi. Ada juga lukisan robot tempur yang bentuk aslinya adalah mesin pencetak koran. Yah konsepnya sama kayak Transformer gitu lah.
Pameran ini menyasar pengunjung untuk semua umur. Emang c pameran seni ga pake rating macam 17+, tapi kalo anak-anak dibawa ke pameran lukisan abstrak atau seni ukir abstrak, pasti bawaannya bete kan? Nah, di pameran ini banyak dikunjungin keluarga dengan anak-anaknya yang masih kecil. Ga mendominasi, tapi banyak. Sisanya, para remaja yang robotic freak dan minoritas pengamat seni. Setelah gw liat-liat, ternyata pameran ini juga kerjasama dengan LPKTA UGM, sebuah BSO Fakultas Teknik UGM. Yah, persis kayak KIR waktu SMA lah.

dsc00564

Pameran ini sebenernya wajah salah satu industri kreatif modern yang akhir-akhir ini lagi berkembang di negara kita. Mengenai industri kreatif ini menarik banget bagi gw. Industri yang ga mengutamakan formalitas dan seragam dalam bekerja, industri di bidang yang bagi orang umum dianggap sebagai hobi, dapat menghasilkan keuntungan besar dan membantu pendapatan daerah. Gw juga kepingin sih berkecimpung di industri kreatif, di bidang desain loh, meskipun perkembangannya masih jalan di tempat. Kakak gw ahli punya hobi di bidang fotografi, dan gw interest di bidang desain-desain grafis. Ya kayak blog ini yang tampilannya bolak-balik gw ganti padahal postingannya masih kurang berkualitas. Gw pikir bagus juga blog ini didesain dan orang juga akan tertarik. Tapi, ya itu, gw berhenti di situ. Kesenangan itu masih tertahan di desain-desain ini.


(Beberapa) Buku Teknik Sipil Langka, Benarkah?

February 20, 2009

pict0495

Wah, akhirnya nge-post juga! Setelah ditunggu-tunggu selama dua bulan tidak ada post baru di blog ini sampe jamuran. Makasih buat bapak dosen Mekanika Fluida, Pak Djoko Luknanto yang secara gak langsung telah mengembalikan semangat saya untuk nge-post lagi.

Oke, di post ini gw mau sedikit cerita tentang lika-liku gw dalam mencari buku buat kuliah.

“(Beberapa) Buku Teknik Sipil Langka, Benarkah?”

Teknik Sipil? Tentunya sekarang sudah menjadi ilmu yang umum, buktinya mayoritas perguruan tinggi punya program studi yang satu ini dan buku referensinya pasti banyak beredar dimana-mana. Tapi anehnya gw masih aja susah untuk menemukan beberapa buku referensi yang gw butuhin untuk kuliah.

Selama gw kuliah di UGM, beberapa tempat jadi langganan gw buat nyari buku. Kalau mau murah dan lengkap, carilah pusat buku-buku murah, yah semacam pusat buku murah di daerah Kwitang lah. Di Jogja ada dua tempat buat ngedapetin buku-buku murah, Shopping Centre yang lokasinya diapit Taman Pintar dan Taman Budaya dan kios-kios buku di Terban, depan SMAN 6. Bedanya dengan toko buku, buku-buku di sini ga disusun sesuai kelompoknya, jadi kalau mau nyari buku kita tinggal bilang judul bukunya plus penerbit atau pengarangnya ke penjualnya, nanti dicariin bukunya sama yang jual, tawar harganya, bayar. Mungkin agak susah buat ngedapetin buku yang sesuai dengan keinginan kita, terutama kalau kita ga pernah liat buku yang kita cari atau yang jualnya ga paham buku yang kita cari. Tapi melihat harganya yang cuma 70 % dari harga buku di toko buku, dan masih bisa ditawar, mencari buku di sini jelas lebih efisien.

pict0498

Nah, di dua tempat itulah gw mencari buku referensi buat kuliah di smester II ini. Semester ini gw belajar Statistika dan Probabilitas sama Matematika II (Kalkulus II), mata kuliah program studi MIPA yang dibutuhkan di bidang Teknik Sipil. Nyari buku referensi buat dua mata kuliah di atas ga susah. Semua buku yang gw butuhin terpenuhi, karena itu semua termasuk mata kuliah umum. Lalu ada Geomatika (nama umumnya Ilmu Ukur Tanah), mata kuliah program studi Geodesi dan Geomatika sama Pengantar Geologi Teknik, mata kuliah program studi Geologi. Mata kuliah yang terakhir ini sampe sekarang buku referensinya ga berhasil gw temukan. Cari dimana-mana pasti percakapannya kira-kira kayak begini :

“Mas, ada buku Pengantar Geologi Teknik? Penerbitnya Biro Penerbit Teknik Sipil”, gw tanya.

“Wah, ga eneng yo, mas. Coba mas’e liat di toko lain”, jawab si penjual.

“Kalo Geologi Untuk Teknik Sipil? Penerbitnya Erlangga”

“Ga ada juga ya, mas”

“Buku tentang Geologi Teknik ada gak, mas?”

“Ga ada”

Yang paling rese, ada beberapa kios yang penjualnya baru gw sebutin judul bukunya udah bilang ga ada. Masa c beneran ga ada? Kenapa ga nyari dulu kek, liat dulu kek, malas amat. Sempet gw kesel, gw tes yang jualan. Di kiosnya gw liat ada buku Analisis Struktur di tumpukan buku di bagian atas, langsung gw pura-pura nanya,

“Ada buku Analisis Struktur ga, mbak?”

“Ga ada tuh”, spontan dijawab si mbak.

Damn it! Ga niat banget c mbak ini! Udah jelas-jelas gw liat ada buku Analisis Struktur, seking malasnya sampai dia lebih memilih bilang ga ada daripada menoleh sedikit untuk mencari.

Selain Pengantar Geologi Teknik, buku referensi mata kuliah Struktur Bangunan waktu semester I juga ga berhasil gw dapetin. Temen-temen yang lain gw tanyain juga bernada sama, susah nyari buku buat dua mata kuliah ini. Beberapa senior yang gw tanyain malahan lebih dominan pake buku copyan dan diktat buat belajar, katanya karena beberapa buku emang susah dicari.

Buat mata kuliah yang lain macam Analisis Tegangan, Regangan dan Deformasi (Mekanika Bahan), Teknik Lalu Lintas, Ilmu Lingkungan, dan Mekanika Fluida (Hidraulika) masih lumayan mudah didapat walau bukunya beberapa ga sesuai rekomendasi dosen. Ah, peduli amat, yang penting isinya sesuai. Beberapa rekomendasi dosen malah buku impor. Jangan berharap buku impor yang pengarangnya dari luar, apalagi yang belom diterjemahkan, pasti ga dapet, kecuali beli di Kinokuniya Book Store. Mending cari aja di internet, banyak e-Booknya yang tersedia gratis!!!


Jogja Culinary : It’s Noodle Time!

November 14, 2008

Tinggal di Jogja ga afdol kalo ga nyoba nyicipin makanannya, karena di sini penuh dengan makanan-makanan khas yang menggugah selera, pokoke manteb tenan! Nek jarene Pak Bondan kui Mak Nyuss!! Nah, kali ini gw akan bahas 2 tempat makan yang patut dicoba karena gw menyambangi kedua tempat ini dalam waktu berdekatan. Kebetulan gourmet andalan mereka sama-sama mie. Dan mereka adalah…

1. RM Bungong Jeumpa
Jl. R. W. Monginsidi No. 40B, Yogyakarta

Dari namanya yang berbahasa Aceh, udah pasti RM ini nyediain masakan Aceh. Menu andalan di sini tentunya Mie Aceh. Letaknya tepat di sebelah pertigaan Jl. R.W. Monginsidi-Jl. Magelang, kalo anak UGM yang ngekos di Bulaksumur, bisa lewat Jetis. Waktu itu gw datang malam-malam dan mesen Mie Aceh Goreng, Roti Cane dan Kopi Aceh.

Ditilik dari bumbunya, Mie Aceh ini punya komposisi rasa pedas yang sedang, mungkin bagi lidah Jawa ini tergolong pedas, tapi untuk masakan Mie Aceh tergolong sedang. Mie-nya sendiri dilumuri bumbu yang gurih serta rasa rempah-rempah yang khas kerasa banget. Bumbu kari juga terasa meski pada mie goreng ga begitu kerasa, lebih kerasa kalo yang mie rebus. Variasi Mie Aceh di sini ada macem-macem, ada Mie Aceh Ayam, Daging Sapi, Rendang, dll.

Sedangkan Kopi Aceh lumayan kental dan legit, tapi gw kurang suka c dengan kopi murni begini. Gw lebih suka kopi campuran.

Sedangkan Roti Cane-nya lumayan enak disajikan dengan kuah kari. Sayang kari di sini agak terlalu banyak lemaknya dan kurang gurih dibanding dengan Roti Cane di Ruko Taman Yasmin, Bogor. Selain dengan bumbu kuah kari, Roti Cane bisa juga disajikan dengan gula kalau mau yang manis.

Harga Mie Aceh berkisar 10 ribu rupiah, cukup murah mengingat porsinya bisa untuk 2 orang. Sedangkan Roti Cane Kuah Kari berharga 6, 5 ribu dan Kopi Aceh berharga 3 ribu. Oya di sini juga sedia Martabak Telor khas Aceh loh…

2. Bakmi Kadin
Jl. Bintaran Kulon No. 6, Yogyakarta

Suatu malam ketika sedang membuat tugas gambar Rencana Fondasi, Balok Sloof dan Detail Fondasi Beton Bertulang, perut gw yang keroncongan mengingatkan gw bahwa gw belum makan malam. Makanya gw pun pergi ke luar untuk mencari makan….

Malam hari berkendara di daerah Sayidan, yang mengingatkan gw akan lagu Shaggy Dogg, “Di Sayidan…di jalanan”, gw berhenti di dekat kantor Kadin untuk membeli Mie Jawa dari Bakmi Kadin yang konon katanya sudah Top Margotop sejak dahulu kala.

Terletak di sebelah kantor Kadin (Kamar Dagang Indonesia), Bakmi Kadin ini tentunya menjual mie, yaitu Mie Jawa, salah satu Javanese Cuisine yang khas. Oya, penamaan Bakmi ga tepat karena bakmi berarti mie yang mengandung daging babi, sedangkan mie ini halal yang pastinya tanpa babi. Di sana gw beli Mie Jawa Goreng dibungkus buat dimakan di rumah dan ternyata harganya 17 ribu rupiah, yang menurut gw bisa makan satu hari penuh, tapi gak apa lah demi pengalaman.

Mie Jawa berbeda dengan Mie Goreng atau Mie Godog (Rebus) lainnya. Mie yang dimasak dalam tungku arang serta bumbu yang khas Jawa membuat mie ini berasa agak manis dengan aroma yang khas, serta tidak terlalu gurih. Pokoke Mie Jawa ini berasa soft di lidah, bertolak belakang dengan Mie Aceh tadi yang hard taste. Pokoke manetb lah, cakep…cakep banget (bukan CaKeb yang berarti Cah Kebumen). Untuk isi dari mie ini tidak berbeda dengan mie lainnya, umumnya terdiri dari suwiran ayam, potongan sayur, telur yang diorek-orek, bahasa Indonesianya apa ya, pokoknya gitu lah. Yang jelas yang khas dari Mie jawa ini ya rasanya yang manis itu dari bumbunya. Sayang gw belum nyoba yang Mie Godog, pernah c tapi bukan dari bakmi Kadin.

Oya, sejarah nama Bakmi Kadin ini udah jelas kalau diberi nama tersebut karena lokasinya di sebelah kantor Kadin, tapi belakangan ini dicari singkatan yang lebih bagus, yaitu diambil dari nama penjual pertamanya, KArto kasiDIN.