A Trip To Minahasa

July 20, 2009

IMG_3652

Sejak kelas 2 SMA, gw sekeluarga udah bercita-cita untuk liburan ke Manado. Akhirnya pada liburan kali ini, cita-cita itu terpenuhi. Hari Rabu sampai Jumat lalu, tepatnya tanggal 15-17 Juli 2009, gw menghabiskan waktu liburan gw dengan berlibur ke Tanah Minahasa, atau lebih tepatnya Sulawesi Utara. Berliburnya gw ke sini merupakan pertama kali gw mengunjungi daerah di Indonesia selain Sumatra, Jawa dan Bali.

Cerita berawal dari cita-cita, seperti yang gw tuliskan di atas, untuk berlibur ke Manado sejak kelas 2 SMA dulu. Waktu itu kita udah merencanakan obyek wisata yang akan dikunjungi saat liburan. Bali memang indah, tapi berhubung sudah pernah ke Bali, maka memutuskan untuk mencari tempat lain, maka 2 lokasi sudah didapat, yaitu Manado dan Lombok. Namun, berhubung kesibukan yang berbeda-beda dan sempitnya waktu tersedia, cita-cita itu baru tercapai di liburan kali ini. Berawal dari bokap yang mendapat dinas di Manado, kita pun berencana untuk liburan ke Manado. Rencana ini pun hampir gagal karena naiknya harga tiket pesawat dan sulitnya menyingkronisasikan waktu sekeluarga. Akhirnya, usut demi usut, waktu pun bisa disesuaikan dan tiket murah pesawat pun didapat dan berangkatlah kita.

Pada hari Rabu dini hari kira-kira jam 3 pagi, kita berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Di Soetta (Soekarno-Hatta), bokap gw berpisah sama gw, kakak gw dan nyokap karena bokap gw naik Garuda (akomodasi dinas) sedangkan gw, kakak gw dan nyokap naik Sriwijaya Air (swadaya). Sebenernya gw pengen naik Garuda sih karena pesawatnya Boeing 737-800 NG sedangkan Sriwijaya pesawatnya Boeing 737-400, selain itu kalau di Garuda dikasih makan siang, di Sriwijaya Cuma dikasih snack. Pesawat bokap gw transit di Bandara Hassanudin, Makassar sebelum ke Manado, sedangkan pesawat kita transit di Bandara Juanda, Surabaya, terlebih dahulu. Ada satu pemandangan menarik sebelum pesawat mendarat di Bandara Juanda yaitu terlihatnya Gunung Bromo yang indah dari udara. Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 3 jam, kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado pukul 11.00 WIB atau 12.00 WITA (di Manado menggunakan WITA). Lebih menakjubkan lagi, sebelum mendarat dari pesawat kita disuguhkan pemandangan Bukit Tomohon dan kota Manado beserta laut Taman Nasional Bunaken yang indah dan bersih dimana ditengahnya terdapat Pulau Bunaken dan Gunung Berapi Manado Tua. Pesawat kemudian berputar dan melewati shoreline Pantai Lakban yang indah dengan pasir putih dan laut biru muda yang indah sebelum akhirnya pesawat mendarat.

Akhirnya sampai juga di Manado, ibukota Sulawesi Utara, tanah Minahasa. Berhubung pesawat kita mendarat lebih dahulu daripada pesawat bokap, maka menunggulah kita di bandara. Selagi menunggu, gw datengin Tourism Information Centre dan mengambil beberapa brosur lokasi wisata di Sulawesi Utara, setelah itu ke weaving gallery untuk memotret-motret pesawat yang mendarat atau lepas landas. Setelah bokap sampai, kita dijemput pegawai Bank Mandiri cabang Manado dan diantarkan ke hotel di kota Manado. Dari hotel, bokap langsung pergi dinas ke Bitung, sedangkan kita tidur dan istirahat dulu di hotel setelah 3 jam berada di pesawat yang sempit.

Goin Underwater

IMG_3678

Hari kedua di Manado, kita sekeluarga berwisata ke Taman Laut Nasional Bunaken. Dari hotel kita naik taksi ke dermaga untuk naik boat ke Bunaken. Sampai di sana, langsung kita dikerebutin calo-calo yang menyewakan kapalnya. Untung di sana ada petugas dari Dishub yang menjaga jadi kita diberikan angkutan yang resmi dan naiklah kita ke sebuah boat. Boat ini berukuran cukup besar, bisa menampung hingga 20 penumpang, dan karena kita cuma berlima (gw sekeluarga ditambah teman kantor bokap yang juga berdinas) jadi terasa lega sekali. Susunan kursi berjajar seperti angkot, ada fasilitas kamar ganti buat yang pengen diving atau snorkling dan di antara deretan kursi tersedia tabung kaca yang dapat diturunkan sehingga dari boat tersebut kita bisa melihat pemandangan bawah laut yang terdiri atas beraneka ragam terumbu karang beserta biota-biota laut lainnya yang indah.

Perjalanan dari dermaga ke Bunaken memakan waktu 30 menit. Dengan angin laut yang menghembus damai membuat suasana jadi ngantuk tapi pemandangan kota Manado di bawah bukit Tomohon beserta pemandangan Gunung Berapi Manado Tua dari kejauhan, laut yang biru bersih dan tenang tanpa ombak menjadikan ngantuk itu hilang. Gw dan kakak gw asik memotret-motret pemandangan.

Mendekati Taman Laut Bunaken, warna laut yang sebelumnya biru tua kini didominasi warna biru muda yang berarti terdapat banyak terumbu karang yang kedalamannya cukup rendah dari permukaan laut. Tabung kaca di antara deretan kursi pun diturunkan melewati permukaan laut dan….Magnificent!! Pemandangan beraneka ragam coral reef berwarna-warni yang indah ditambah kumpulan ikan yang hidup di terumbu karang tersebut yang begerombol. Ikan-ikan yang bergerombol juga ikan-ikan yang indah, berwarna-warni dan berbgai bentuk. Ikan Ocellaris Clownfish yang terkenal lewat film animasi Finding Nemo pun bisa dilihat dari sini. Selain itu, di laut dalam Bunaken juga terdapat Sea Sponge yang dijadikan ikon kartun Spongebob Squarepants, sayang gw gak bisa liat karena ada di laut dalam dan perlu diving kalau mau liat. Terkadang di antara gerombolan ikan itu gw liat gelembung udara yang menyembur di dalam laut, setelah diliat ternyata para diver yang menyelam menikmati keindahan bawah laut di sana. Selain keindahan terumbu karang dan biota lautnya, Taman Laut Nasional Bunaken juga terkenal dengan struktur bawah laut yang terdiri dari banyak jurang, gua-gua laut dan terowongan karang.

IMG_3701

Setelah puas menikmati pemandangan bawah laut, boat merapat ke pier di Pulau Bunaken. Di sana kita singgah sebentar dan gw sama kakak gw menyewa peralatan untuk snorkling terdiri dari tabung snorkle, kacamata renang dan sepatu katak. Sebenarnya peralatan untuk meyelam juga disediakan, tapi kalau mau diving harus benar-benar seorang diver dan memiliki sertifikat. Gw dan kakak gw pun segera naik boat lagi dan menuju salah satu spot untuk untuk snorkling. Selama snorkling kita ditemani seorang pemandu yang bertugas menjaga kita takut-takut kita tenggelam. Setelah nyebur ke air dan menyelam, gw bisa melihat dengan mata gw sendiri secara langsung suatu keadaan yang indah. Gw berada di dalam laut, di antara terumbu karang yang indah dan ditemani gerombolan ikan-ikan kecil berwarna-warni, terkadang gerombolan ikan tersebut bisa banyak banget sampai bentuknya seperti angin puyuh. Untungnya karena gak jauh-jauh di dalam laut, gw gak ketemu ikan hiu. Lalu gw keluarkan biskuit yang udah diremukkin dan gw umpanin ke ikan-ikan tersebut. Gak usah susah-susah, cukup disebarkan di depan tangan dan gerombolan ikan pun langsung menyerbu ke arah tangan gw dan memakan dengan rakus, saking rakusnya sampe tangan gw digigit-gigit, tapi tenang saja, it doesn’t harm you at all. Sepanjang coral reef gw ngeliat beberapa bintang laut ditambah bulu babi dan benalu laut yang kalau disentuh bakal nguncup kayak putri malu. Kadang-kadang seking asiknya snorkling, beberapa kali gw sempet masuk ke daerah jurang laut (zona abisal) dan nyelem ke sana, tapi makin dalam gw masukkin dalamnya makin pekat, akhirnya gw balik lagi dah, gak berani gw.

Setelah kurang lebih 90 menit snorkling, kita pun balik ke boat dan balik ke Pulau Bunaken. Rencananya sih mau mandi karena badan dan mulut udah asin dengan air laut, tapi setelah tau air di kamar mandinya air laut, gak jadi deh, percuma saja. Kita sekeluarga pun pulang ke Manado dan mungkin karena kecapean setelah snorkling jadi ngantuk dan tertidur di boat.

Wisata Kuliner

DSC00900

Travelling tidak lengkap tanpa wisata kuliner, tidak terkecuali di Manado ini. Malam pertama di Manado kita makan di sebuah resto laut, menunya tentunya Sea Food. Malam itu kita makan Ikan Kuwe Bakar, Kerapu yang dimasak dengan sayur Woku Belanga, Calamari dan dilengkapi dengan Sambal Dabu-Dabu. Semuanya makanan khas Minahasa, selain Calamari tentunya. Woku Belanga merupakan masakan yang terdiri atas bumbu-bumbu macam cabe, lada hitam, jeruk nipis, daun jeruk dan tambahan lainnya. Rasanya berasa asam dan pedas. Maknyuss! Sedangkan Sambal Dabu-Dabu adalah sambal yang terdiri atas berbagai macam irisan sambal sepeti cabe, tomat, bawang dll. Rasa pedasnya diiringi rasa asam dari jeruk nipis. Pedasnya gak kalah mantap dari sambel bajak SS.

Paginya, dalam Buffet Breakfast di hotel, gw mencicipi Tinutuan atau Bubur Manado yang sudah terkenal di mana-mana. Bumbunya terdiri atas nasi (bukan bubur), jagung, kentang manis, labu, daun lemon, bawang putih dan lainnya. Rasanya bernuansa kecut dan asam serta gurih. Kalau disantap dengan sambal, top margotop deh!
Untuk kue, manisan dan oleh-oleh, dari Manado ada pastry yang terkenal yaitu Klappertaart, tart kelapa dengan kismis dan kacang kenari. Selain itu ada Bagea yang dibuat dari tepung beras dan kenari. Pokoknya kue khas Manado harus ada kenari-nyalah intinya.

Tinutuan-Bubur Manado

Well, that’s all the stories of my trip in the land of Minahasa. Sebenernya masih ada yang pengen gw tulis dari perjalanan di Sulawesi Utara macam ke Bukit Tomohon melihat Danau Linow yang berubah warna dari biru ke hijau toska pada waktu cerah yang dilanjutkan ke Danau Tondano yang terletak di kota Tondano. Selain itu, budaya dan perilaku suku Minahasa sangat bagus buat ditulis, tapi jadinya nanti post ini bakal terlalu panjang.

Pada hari Jumat, tepatnya setelah Shalat Jum’at kita kembali ke Jakarta dengan penerbangan pukul 13.30 WITA atau 12.30 WIB. Sama dengan sebelumnya, bokap gw harus terpisah karena naik Garuda, sedangkan gw, kakak gw dan nyokap naik Batavia Air. Penerbangan pulang kali ini cukup lebih baik dari keberangkatan karena Batavia Air yang gw naikin menggunakan Airbus A320 dan penerbangan langsung tanpa transit.

Menurut gw pribadi, gw harus kembali lagi ke sana suatu saat karena banyak obyek yang belum sempet gw liat. Seperti binatang Tarsius yang ada di Tangkoko Dua Sudara Wildlife Reserve, ikan purba Raja Laut atau yang terkenal dengan nama latin Coelacanth, serta ketika gw sudah bisa menyelam untuk melihat keindahan laut Bunaken lebih dalam.

NB : Semua foto dalam post ini murni foto dokumentasi gw ke sana, kecuali gambar terumbu karang bawah laut dan gambar tinutuan.

Indonesia, Ultimate In Diversity


Tempat Makan Di Bawah Rp 10.000,00 Sekitar Kampus (Part I)

June 29, 2009

Bagi gw sih Hidup Buat Makan bukan Makan Buat Hidup

Namanya daerah sekitar kampus, penjaja makanan dan minuman pasti menjajakan makanan dan minuman dengan harga di bawah rata-rata harga umumnya sebab pasar yang disasar adalah para mahasiswa kost-kostan dimana kondisi keuangannya terbatas. Hal ini berlaku di semua daerah kampus. Tapi, bukan berarti dengan harga murah, rasa masakan menjadi dikorbankan. Gw kurang setuju dengan ungkapan “Nek mahasiswa kui sing penting wareg, dudu penak’e”, kalau gw sih “Sing penting wareg, murah karo penak”, itu mah semua orang juga maunya begitu.
Jogja terkenal dengan wisata kulinernya, hali ini juga berlaku di kawasan Bulaksumur dan sekitarnya (Kampus UGM, UNY dan Universitas Sanata Dharma). Selama pengalaman gw berburu masakan berkualitas, gw mau berbagi sedikit rekomendasi tempat-tampat makan enak. Gratis lho, kalo di buku-buku rekomendasi tempat makan kan mesti bayar. Tempat makan gak disusun berdasarkan kategori karena post ini masih bersambung. Berikut yang udah pernah gw coba :

Sarapan Pagi
1. SGPC Bu Wiryo
Lokasi : Jl. Agro, Selokan Mataram, Belakang Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan.

SGPC atau Sego Pecel (Nasi Pecel) Bu Wiryo yang buka sejak 1959 ini sudah sangat terkenal. Banyak orang dari luar kota yang datang untuk mencicipi nasi pecel disini. Disini juga jadi langganan tokoh besar seperti Pak Boediono dan Andi Malarangeng sewaktu kuliah di UGM dulu. Campuran sayurnya hanya kacang panjang, tauge dan bayam yang disiram sambel kacang. Bagi gw, kayak Bondan bilang, rasanya Maknyuss! Selain itu, telor mata sapi yang dibuat disni benar-benar jernih tanpa gosong. Menu lain yang jadi andalan adalah Jus Tomat. Sayang, karena pamornya yang naik, maka harganya juga ikut naik. Sepiring nasi pecel harganya Rp 6.000,00, kalau ditambah telur, tambah Rp 3.000,00. Sudah tidak harga anak kost lagi.

2. Soto Sagan
Lokasi : Jl. Dewi Sartika, depan Warung SS Sagan
Lapaknya berupa warung tenda yang cuma buka tiap pagi. Soto yang disajikan berupa soto ayam dengan kuah santan dan segala atributnya. Rasanya gurih, dan kuahnya yang kental menjadi favorit meskipun kadang-kadang bumbunya kurang terasa. Harga soto Rp 4.000,00 dengan es teh/es jeruk Rp 1.000,00 dan Rp 500,00 untuk parkir kalau bawa kendaraan.

3. Bubur Ayam Jakarta
Lokasi : Jl. Agro, Selokan Mataram, depan Cheers Cafe.
Namanya jualan bubur ayam ya pasti cuma buka pagi, paling lambat tutup jam 11 siang. Bubur disini jadi langganan gw dan teman-teman selain karena rasanya enak, banyak mahasiswi cantik anak ekonomi, fisip atau psiko yang sarapan pake hot pants gitu, hehehe… Buburnya berisi suwiran ayam, cakwe, kacang dll. Seperti bubur lainnya, tapi bubur disini lebih terasa bumbu dan kuahnya, gak seperti bubur yang lain, terutama bubur di Burjo. Harga bubur ayam+es teh/es jeruk adalah Rp 4.500,00 ditambah Rp 500,00 buat parkir kalau bawa motor.

Sisanya ntar gw update lagi deh, soalnya masih kekurangan info mengenai tampat makan yang udah gw jajal.


Airbus A320 Dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

May 23, 2009

Untuk meningkatkan kapasitas bandara yang dinilai sudah tidak memadai, PT Angkasa Pura II membangun terminal baru yang disebut Terminal 3 atau T3.

Hari Kamis kemarin, 21 Mei, gw pulang ke Bogor dari Jogja naik pesawat. Alasan kenapa gw pulang sebenarnya berawal dari ajakan beberapa temen yang mau pulang tanggal 21 Mei. Sebutlah mereka bernama Galih dari Bekasi, Latief dari Tangerang sama Ryan dari Jakarta (nama asli loh). Awalnya gw gak ada niat pulang karena pemilu kemarin gw udah pulang, tapi begitu melihat bahwa hari Kamis libur ditambah Jumat ga ada kuliah (masa?) dan hari Sabtu dan Minggu kosong, gw jadi berminat buat ikut. Ditambah hari Sabtu ada Smansaday lagi. Makanya gw pun memutuskan buat pulang lagi! Oke, rencana kita pulang hari Kamis dan balik lagi hari Senin. Iseng-iseng lah kita cari tiket promo. Eh, eh, dapet lah kita tiket promo, yeah! Air Asia hari Kamis, tanggal 21 Mei 2009, penerbangan sore harga tiketnya IDR 197.000. Yah, karena belinya di agen tiket kena charge lah jadinya IDR 217.000. Perlu diketahui kalau tiket promo semakin jauh hari kita memesan harganya semakin murah, bisa sampe hanya IDR 35.000 loh. Cuma, namanya tiket promo kan non-refundable ticket, jadi kalau pas hari keberangkatan kita ada urusan mendadak dan ngebatalin tiket, uang kita hangus lah. Tiket Air Asia ini gw beli 2 minggu sebelum keberangkatan, sebelumnya waktu gw balik ke Jogja dari Bogor bulan lalu, gw beli tiket Lion Air H-3 sebelum keberangkatan harganya cuma IDR 270.000. Makanya kita mesti pinter-pinter nentuin waktu kalau mau cari tiket promo. Lalu penerbangan sore lebih murah daripada penerbangan sore karena penerbangan sore umumnya cuacanya kurang baik. Nah, kalau gw naik kereta api eksekutif kayak Bima dan Taksaka, budget yang gw keluarin sekitar IDR 190.000-220.000 dengan waktu perjalanan sampai di Stasiun Gambir 8 jam, belom ditambah buat KRL Pakuan Ekspress. Sedangkan naik pesawat dengan harga lebih mahal sedikit tapi lebih efisien karena hanya dalam 1 jam sudah sampai di Cengkareng.
Hari-H, kita memutuskan buat cari tumpangan sendiri-sendiri ke Bandara. Gw numpang sodara gw buat nganterin ke airport naik motor, daripada naik taksi keluar IDR 35.000, toh gw gak bawa bagasi ini. Sampe di Bandara Adisutjipto, check in, sholat dan bla bla bla, akhirnya kita boarding jam 16.30.

DSC00805

Air Asia menggunakan pesawat baru Airbus jenis A320. Umumnya maskapai penerbangan pake pesawat Boeing 737-400. Lion Air kemarin gw naikin pesawatnya Boeing 737-900 ER, pesawat keluaran Boeing terbaru juga. Nah, kebetulan gw kepingin ngerasain gimana rasanya naik Airbus. Secara umum sih sama saja, tapi bunyi mesin turbin Rolls-Royce pada A320 lebih halus dari bunyi mesin Boeing 737-400. Gw lebih suka bunyi mesin General Electric pada Boeing 737-400 karena suaranya lebih menggelegar.

DSC00821

Selama penerbangan, cuaca kurang bersahabat dan terkadang pesawat mengalami turbulensi. Dengan keadaan pesawat kurang stabil karena turbulensi, ditambah ibu-ibu yang duduk di sebelah gw zikir sambil pegang tasbih dengan sangat khusyuk, gw sempat was-was dan berprasangka buruk bakal ada apa-apa, untunglah pesawat mendarat dengan selamat dan sampai on-schedule.

DSC00830

DSC00832

Terminal 3! Akhirnya gw bisa ngerasain terminal baru di Bandara Soetta ini. Terminal yang baru selesai dibangun dan diresmikan bulan April 2009 ini memiliki arsitektur modern dengan konsep eco-futuristik, sebuah desain modern dengan konsep yang ramah lingkungan. Konsep desain yang sama dengan arsitektur Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Menurut gw, dari segi desain, terminal ini lebih bagus daripada desain KLIA. Terminal 3 ini baru dioperasikan 2 maskapai penerbangan, yaitu Indonesia Air Asia dan Mandala Airlines. Bangunan berbentuk huruf L, terdiri atas 2 lantai. Lantai 1 untuk Kedatangan dan Lantai 2 untuk Keberangkatan.

DSC00836

DSC00839
Turun dari pesawat kita berjalan masuk ke terminal dan langsung dihadapkan ke ruang Baggage Claim (Pengambilan Bagasi) yang dilanjutkan ke terminal kedatangan. Fasilitas yang sudah tersedia antara lain layanan Transit, Lost And Found, Information Centre, layanan internet dan layanan standar bandara pada umumnya. Kelebihannya disini ada fasilitas air minum gratis. Sayangnya tenant pengisi tempat makan disini masih sedikit, baru ada Circle-K, J.Co dan CFC. Gw yang waktu itu kelaparan karena belom makan akhirnya membeli nasi teriyaki di CFC dengan minum dari fasilitas air minum gratis, kere banget yaks! Akhirnya kita berpisah dengan pulang ke rumah masing-masing dan gw naik Damri ke Bogor.


Dari Busway Sampai Subway

April 19, 2009

Kalau anda orang yang senang jalan-jalan, atau orang yang sedang merantau, artinya meninggalkan hometown dan menetap di kota lain untuk suatu tujuan, harusnya anda sudah familiar dengan macam-macam kendaraan umum.

Gw sendiri senang jalan-jalan dan sedang merantau, meninggalkan rumah di Bogor dan menetap di tanah Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mewujudkan cita-cita dengan belajar di universitas perjuangan pertama yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia ini. Dari berbagai kota yang disambangi, banyak macam angkutan umum yang udah gw sambangin. Berapa macam yang pernah anda sambangi?


Kalau gw pergi ke Jakarta dari rumah (Bogor), paling sering naik Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Ekspress. Naiknya di Stasiun Bogor dan turunnya biasanya di Stasiun Gambir atau Stasiun Kota tapi lebih sering ke Stasiun Kota. Keretanya eks Jepang, selain nyaman, ber-AC, Pakuan Ekspress yang namanya juga kereta ekspress cuma berhenti di beberapa stasiun jadinya perjalanan lebih singkat. Dengan tarif Rp 11.000,00 dari Stasiun Bogor bisa sampe Stasiun Beos (Stasiun Kota) dalam 1,5 jam. Di Jogja sendiri ada juga kereta ekspress semacam Pakuan Ekspress, namanya Prambanan Ekspress tapi biasa disebut Prameks. Prameks melayani jalur dari Purworejo-Yogyakarta-Solo dengan harga tiket Rp 7.000,00. Prameks juga lewat Stasiun Maguwo jadi kalau kita mau ke bandara dari Jogja atau sebaliknya bisa juga naik ini. Tapi kereta ini bukan KRL tapi KRD (Kereta Rel Diesel), maklum jalur kereta dengan tenaga listrik baru ada di Jabodetabek. Selain itu, meskipun sama-sama ber-AC, gw rasa Pakuan Ekspress lebih nyaman.

Nah, kalau menyusuri Jakarta pasti gw naik Busway lah. Semua orang pasti tahu Transjakarta Busway atau yang biasa disebut Tije ini. Dulu waktu pertama kali dioperasikan, Busway yang merupakan BRT (Bus Rapid Transit) ini dapat tanggapan negatif dari orang-orang karena dinilai tidak efektif sebagai solusi permasalahan transportasi, tapi sekarang justru banyak diminati orang-orang karena selain murah (tiket seharga Rp 3.500,00 dan Rp 3.000,00 untuk peak hour), nyaman, headway yang cepat dan stabil, juga kelancarannya terjamin karena Busway punya jalur sendiri (Bus Priority). Dari 1 koridor dibangun pada awalnya, sekarang udah dibangun 10 koridor, 8 koridor sudah operasional dan 5 koridor akan dibangun, menghubungkan Jakarta dengan daerah penyangga kayak Bekasi, Tangerang, Depok, UI. Sampe sekarang, gw baru pernah naik Busway di Koridor I, II dan III, yang paling sering Koridor I karena emang seringnya gw ke daerah Sudirman-Thamrin. Biasanya dari Bogor naik Pakuan Ekspress trus disambung Busway koridor I.

Di Jogja juga ada BRT kayak Transjakarta Busway, namanya Transjogja. Transjogja yang merupakan buah hasil kerjasama dari Pemprov DIY dan MSTT JTSL FT UGM (Magister Sistem Teknik Transportasi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada) ini punya beberapa perbedaan dengan Busway. Transjogja bukan angkutan jenis Bus Priority jadinya ga punya jalur sendiri dan mixed traffic dengan kendaraan lainnya. Sistem trayeknya sama-sama Hub And Spoke, tapi untuk Transjogja ga berupa koridor-koridor lurus tapi berupa jalur pelayanan lewat daerah-daerah tertentu. Gw kadang-kadang memanfaatkan Transjogja ini untuk bertransportasi. Salah satunya waktu mengerjakan tugas laporan tentang bangunan transportasi. Waktu itu gw memantau Moda Transportasi Terpadu di Bandara Adisutjipto. Berangkat dari Halte Kopma UGM, turun di Halte Adisutjipto. Halte ini salah satu bagian dari Moda Transportasi Terpadu selain Stasiun Maguwo yang melayani jalur Prameks. Halte dan stasiun ini dihubungkan ke terminal bandara dengan sebuah underpass. Jadi kalau dari bandara ke kota atau sebaliknya, kita bisa langsung naik Transjogja atau Prameks. Kelemahan dari Transjogja ini ada pada headway antar bus yang lama. Maklum, Transjogja ga punya jalur sendiri. Tapi dengan nyaman kita bisa bepergian sambil liat pemandangan kota Jogja. Alon-alon waton kelakon.


Waktu ke KL (Kuala Lumpur) dulu, gw sempat mencoba naik KLIA Ekspress, kereta bandara yang menghubungkan KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dengan kota KL. Nama stsiun di kotanya kalo ga salah Stesen Sentral Kuala Lumpur. Harga tiketnya cukup mahal sih, gw juga udah lupa berapa, tapi lumayan lah dengan service yang diberikan. Keretanya berjalan dengan halus tanpa goncangan, interiornya mirip kereta api bisnis dengan seat saling berhadapan, masing-masing dilengkapi LCD TV untuk advertisement. “Perjalanan memakan waktu 28 minit”, kata operatornya dan sepanjang perjalanan dilihatkan pemandangan kebun kelapa sawit yang statis. Di kotanya sendiri angkutan massal menggunakan Monorail, namanya KL Monorail. Waktu itu gw nyoba naik dari Stesen Ampang, dekat Petronas Tower dan turun di Stesen Bukit Bintang (bukan Bukit Bintang di Wonosari loh!). Sepanjang perjalanan, gw bisa melihat pemandangan kota dari kereta layang itu. Harga tiketnya kalau ga salah sekitar 2 RM. Bagaimana dengan Jakarta? Tiang-tiang pancang proyek JM (Jakarta Monorail) yang terlantar itu gw harap bisa dilanjutkan lagi hingga selesai sehingga warga Jakarta juga bisa menggunakan Monorail untuk berpergian.


Anda tahu MRT(Mass Rapid Transport)? Dari negara-negara di ASEAN ini, hanya Singapura yang punya MRT yang biasa disebut Subway atau kereta bawah tanah ini. Gw pernah nyoba naik Singapore MRT dari Orchard Road ke Marina Bay dan ke Fullerton, dimana terdapat teater Esplanade yang terkenal itu dan Patung Merlion yang jadi ikon Singapura itu. Beli tiketnya lewat vending machine dan harganya berkisar antara 2$-3$ Singapore Dollar, tergantung jarak yang ditempuh. Naik subway bagi gw kurang menyenangkan karena sepanjang perjalanan ga bisa liat pemandangan.

Ada lagi pengalaman naik kendaraan umum jarak jauh, tapi nanti gw bahas di post selanjutnya.


ROBOT AND ROBOTICS

February 22, 2009

dsc00561

Ini hanyalah sebuah sebuah post ringan yang iseng gw buat tentang pameran robot yang ada di Taman Budaya Yogyakarta. Bukan pameran skala besar sih, yang dipamerkan juga nggak banyak, tapi bagi gw cukup interest karena karya-karya di sini cukup unik.
Kalo yang namanya pameran di Taman Budaya, biarpun judulnya “Robot Robotics” , pasti isinya benda-benda berbau seni. Gw juga ga mengharap isinya robot-robot canggih. Setelah gw liat, di situ dipamerkan macam-macam action figure tentang robot. Karakter robot mainan macam Gundam, Transformer, Minibots pastilah ga diragukan keberadaannya di sini. Banyak etalase yang majang robot-robot karakter buatan Amerika, Jepang bahkan dalam negeri. Yang menarik, gw liat ada robot dari bahan daur ulang dari kotak bekas lem dan susu, yah sebuah seni rupa lah. Lumayan unik. Ada juga patung sosok Kamen Raider, ya kalo jaman gw kecil sih namanya Satria Baja Hitam. Lain-lainnya pajangan artikel tentang robot dan lukisan-lukisan robot berukuran besar lengkap dengan deskripsinya sesuai imajinasi sang pelukis.

dsc00560
Intinya adalah pameran ini termasuk pameran seni, yang mengangkat tema tentang robot. Unsur utama di sini yang ditekankan bukan dari sisi science-nya, tetapi ruang imajinasi kita dan fantasi tentang robot itu sendiri. Lukisan-lukisan tentang robot ditampilkan imajinatif. Pelukis menunjukkan habis-habisan daya imajinasi dari lukisannya tentang robot. Ada lukisan berjudul “Pregnancy”, tentang robot pengganti manusia dalam mengandung bayi. Ada juga lukisan robot tempur yang bentuk aslinya adalah mesin pencetak koran. Yah konsepnya sama kayak Transformer gitu lah.
Pameran ini menyasar pengunjung untuk semua umur. Emang c pameran seni ga pake rating macam 17+, tapi kalo anak-anak dibawa ke pameran lukisan abstrak atau seni ukir abstrak, pasti bawaannya bete kan? Nah, di pameran ini banyak dikunjungin keluarga dengan anak-anaknya yang masih kecil. Ga mendominasi, tapi banyak. Sisanya, para remaja yang robotic freak dan minoritas pengamat seni. Setelah gw liat-liat, ternyata pameran ini juga kerjasama dengan LPKTA UGM, sebuah BSO Fakultas Teknik UGM. Yah, persis kayak KIR waktu SMA lah.

dsc00564

Pameran ini sebenernya wajah salah satu industri kreatif modern yang akhir-akhir ini lagi berkembang di negara kita. Mengenai industri kreatif ini menarik banget bagi gw. Industri yang ga mengutamakan formalitas dan seragam dalam bekerja, industri di bidang yang bagi orang umum dianggap sebagai hobi, dapat menghasilkan keuntungan besar dan membantu pendapatan daerah. Gw juga kepingin sih berkecimpung di industri kreatif, di bidang desain loh, meskipun perkembangannya masih jalan di tempat. Kakak gw ahli punya hobi di bidang fotografi, dan gw interest di bidang desain-desain grafis. Ya kayak blog ini yang tampilannya bolak-balik gw ganti padahal postingannya masih kurang berkualitas. Gw pikir bagus juga blog ini didesain dan orang juga akan tertarik. Tapi, ya itu, gw berhenti di situ. Kesenangan itu masih tertahan di desain-desain ini.