A Trip To Minahasa

July 20, 2009

IMG_3652

Sejak kelas 2 SMA, gw sekeluarga udah bercita-cita untuk liburan ke Manado. Akhirnya pada liburan kali ini, cita-cita itu terpenuhi. Hari Rabu sampai Jumat lalu, tepatnya tanggal 15-17 Juli 2009, gw menghabiskan waktu liburan gw dengan berlibur ke Tanah Minahasa, atau lebih tepatnya Sulawesi Utara. Berliburnya gw ke sini merupakan pertama kali gw mengunjungi daerah di Indonesia selain Sumatra, Jawa dan Bali.

Cerita berawal dari cita-cita, seperti yang gw tuliskan di atas, untuk berlibur ke Manado sejak kelas 2 SMA dulu. Waktu itu kita udah merencanakan obyek wisata yang akan dikunjungi saat liburan. Bali memang indah, tapi berhubung sudah pernah ke Bali, maka memutuskan untuk mencari tempat lain, maka 2 lokasi sudah didapat, yaitu Manado dan Lombok. Namun, berhubung kesibukan yang berbeda-beda dan sempitnya waktu tersedia, cita-cita itu baru tercapai di liburan kali ini. Berawal dari bokap yang mendapat dinas di Manado, kita pun berencana untuk liburan ke Manado. Rencana ini pun hampir gagal karena naiknya harga tiket pesawat dan sulitnya menyingkronisasikan waktu sekeluarga. Akhirnya, usut demi usut, waktu pun bisa disesuaikan dan tiket murah pesawat pun didapat dan berangkatlah kita.

Pada hari Rabu dini hari kira-kira jam 3 pagi, kita berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Di Soetta (Soekarno-Hatta), bokap gw berpisah sama gw, kakak gw dan nyokap karena bokap gw naik Garuda (akomodasi dinas) sedangkan gw, kakak gw dan nyokap naik Sriwijaya Air (swadaya). Sebenernya gw pengen naik Garuda sih karena pesawatnya Boeing 737-800 NG sedangkan Sriwijaya pesawatnya Boeing 737-400, selain itu kalau di Garuda dikasih makan siang, di Sriwijaya Cuma dikasih snack. Pesawat bokap gw transit di Bandara Hassanudin, Makassar sebelum ke Manado, sedangkan pesawat kita transit di Bandara Juanda, Surabaya, terlebih dahulu. Ada satu pemandangan menarik sebelum pesawat mendarat di Bandara Juanda yaitu terlihatnya Gunung Bromo yang indah dari udara. Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 3 jam, kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado pukul 11.00 WIB atau 12.00 WITA (di Manado menggunakan WITA). Lebih menakjubkan lagi, sebelum mendarat dari pesawat kita disuguhkan pemandangan Bukit Tomohon dan kota Manado beserta laut Taman Nasional Bunaken yang indah dan bersih dimana ditengahnya terdapat Pulau Bunaken dan Gunung Berapi Manado Tua. Pesawat kemudian berputar dan melewati shoreline Pantai Lakban yang indah dengan pasir putih dan laut biru muda yang indah sebelum akhirnya pesawat mendarat.

Akhirnya sampai juga di Manado, ibukota Sulawesi Utara, tanah Minahasa. Berhubung pesawat kita mendarat lebih dahulu daripada pesawat bokap, maka menunggulah kita di bandara. Selagi menunggu, gw datengin Tourism Information Centre dan mengambil beberapa brosur lokasi wisata di Sulawesi Utara, setelah itu ke weaving gallery untuk memotret-motret pesawat yang mendarat atau lepas landas. Setelah bokap sampai, kita dijemput pegawai Bank Mandiri cabang Manado dan diantarkan ke hotel di kota Manado. Dari hotel, bokap langsung pergi dinas ke Bitung, sedangkan kita tidur dan istirahat dulu di hotel setelah 3 jam berada di pesawat yang sempit.

Goin Underwater

IMG_3678

Hari kedua di Manado, kita sekeluarga berwisata ke Taman Laut Nasional Bunaken. Dari hotel kita naik taksi ke dermaga untuk naik boat ke Bunaken. Sampai di sana, langsung kita dikerebutin calo-calo yang menyewakan kapalnya. Untung di sana ada petugas dari Dishub yang menjaga jadi kita diberikan angkutan yang resmi dan naiklah kita ke sebuah boat. Boat ini berukuran cukup besar, bisa menampung hingga 20 penumpang, dan karena kita cuma berlima (gw sekeluarga ditambah teman kantor bokap yang juga berdinas) jadi terasa lega sekali. Susunan kursi berjajar seperti angkot, ada fasilitas kamar ganti buat yang pengen diving atau snorkling dan di antara deretan kursi tersedia tabung kaca yang dapat diturunkan sehingga dari boat tersebut kita bisa melihat pemandangan bawah laut yang terdiri atas beraneka ragam terumbu karang beserta biota-biota laut lainnya yang indah.

Perjalanan dari dermaga ke Bunaken memakan waktu 30 menit. Dengan angin laut yang menghembus damai membuat suasana jadi ngantuk tapi pemandangan kota Manado di bawah bukit Tomohon beserta pemandangan Gunung Berapi Manado Tua dari kejauhan, laut yang biru bersih dan tenang tanpa ombak menjadikan ngantuk itu hilang. Gw dan kakak gw asik memotret-motret pemandangan.

Mendekati Taman Laut Bunaken, warna laut yang sebelumnya biru tua kini didominasi warna biru muda yang berarti terdapat banyak terumbu karang yang kedalamannya cukup rendah dari permukaan laut. Tabung kaca di antara deretan kursi pun diturunkan melewati permukaan laut dan….Magnificent!! Pemandangan beraneka ragam coral reef berwarna-warni yang indah ditambah kumpulan ikan yang hidup di terumbu karang tersebut yang begerombol. Ikan-ikan yang bergerombol juga ikan-ikan yang indah, berwarna-warni dan berbgai bentuk. Ikan Ocellaris Clownfish yang terkenal lewat film animasi Finding Nemo pun bisa dilihat dari sini. Selain itu, di laut dalam Bunaken juga terdapat Sea Sponge yang dijadikan ikon kartun Spongebob Squarepants, sayang gw gak bisa liat karena ada di laut dalam dan perlu diving kalau mau liat. Terkadang di antara gerombolan ikan itu gw liat gelembung udara yang menyembur di dalam laut, setelah diliat ternyata para diver yang menyelam menikmati keindahan bawah laut di sana. Selain keindahan terumbu karang dan biota lautnya, Taman Laut Nasional Bunaken juga terkenal dengan struktur bawah laut yang terdiri dari banyak jurang, gua-gua laut dan terowongan karang.

IMG_3701

Setelah puas menikmati pemandangan bawah laut, boat merapat ke pier di Pulau Bunaken. Di sana kita singgah sebentar dan gw sama kakak gw menyewa peralatan untuk snorkling terdiri dari tabung snorkle, kacamata renang dan sepatu katak. Sebenarnya peralatan untuk meyelam juga disediakan, tapi kalau mau diving harus benar-benar seorang diver dan memiliki sertifikat. Gw dan kakak gw pun segera naik boat lagi dan menuju salah satu spot untuk untuk snorkling. Selama snorkling kita ditemani seorang pemandu yang bertugas menjaga kita takut-takut kita tenggelam. Setelah nyebur ke air dan menyelam, gw bisa melihat dengan mata gw sendiri secara langsung suatu keadaan yang indah. Gw berada di dalam laut, di antara terumbu karang yang indah dan ditemani gerombolan ikan-ikan kecil berwarna-warni, terkadang gerombolan ikan tersebut bisa banyak banget sampai bentuknya seperti angin puyuh. Untungnya karena gak jauh-jauh di dalam laut, gw gak ketemu ikan hiu. Lalu gw keluarkan biskuit yang udah diremukkin dan gw umpanin ke ikan-ikan tersebut. Gak usah susah-susah, cukup disebarkan di depan tangan dan gerombolan ikan pun langsung menyerbu ke arah tangan gw dan memakan dengan rakus, saking rakusnya sampe tangan gw digigit-gigit, tapi tenang saja, it doesn’t harm you at all. Sepanjang coral reef gw ngeliat beberapa bintang laut ditambah bulu babi dan benalu laut yang kalau disentuh bakal nguncup kayak putri malu. Kadang-kadang seking asiknya snorkling, beberapa kali gw sempet masuk ke daerah jurang laut (zona abisal) dan nyelem ke sana, tapi makin dalam gw masukkin dalamnya makin pekat, akhirnya gw balik lagi dah, gak berani gw.

Setelah kurang lebih 90 menit snorkling, kita pun balik ke boat dan balik ke Pulau Bunaken. Rencananya sih mau mandi karena badan dan mulut udah asin dengan air laut, tapi setelah tau air di kamar mandinya air laut, gak jadi deh, percuma saja. Kita sekeluarga pun pulang ke Manado dan mungkin karena kecapean setelah snorkling jadi ngantuk dan tertidur di boat.

Wisata Kuliner

DSC00900

Travelling tidak lengkap tanpa wisata kuliner, tidak terkecuali di Manado ini. Malam pertama di Manado kita makan di sebuah resto laut, menunya tentunya Sea Food. Malam itu kita makan Ikan Kuwe Bakar, Kerapu yang dimasak dengan sayur Woku Belanga, Calamari dan dilengkapi dengan Sambal Dabu-Dabu. Semuanya makanan khas Minahasa, selain Calamari tentunya. Woku Belanga merupakan masakan yang terdiri atas bumbu-bumbu macam cabe, lada hitam, jeruk nipis, daun jeruk dan tambahan lainnya. Rasanya berasa asam dan pedas. Maknyuss! Sedangkan Sambal Dabu-Dabu adalah sambal yang terdiri atas berbagai macam irisan sambal sepeti cabe, tomat, bawang dll. Rasa pedasnya diiringi rasa asam dari jeruk nipis. Pedasnya gak kalah mantap dari sambel bajak SS.

Paginya, dalam Buffet Breakfast di hotel, gw mencicipi Tinutuan atau Bubur Manado yang sudah terkenal di mana-mana. Bumbunya terdiri atas nasi (bukan bubur), jagung, kentang manis, labu, daun lemon, bawang putih dan lainnya. Rasanya bernuansa kecut dan asam serta gurih. Kalau disantap dengan sambal, top margotop deh!
Untuk kue, manisan dan oleh-oleh, dari Manado ada pastry yang terkenal yaitu Klappertaart, tart kelapa dengan kismis dan kacang kenari. Selain itu ada Bagea yang dibuat dari tepung beras dan kenari. Pokoknya kue khas Manado harus ada kenari-nyalah intinya.

Tinutuan-Bubur Manado

Well, that’s all the stories of my trip in the land of Minahasa. Sebenernya masih ada yang pengen gw tulis dari perjalanan di Sulawesi Utara macam ke Bukit Tomohon melihat Danau Linow yang berubah warna dari biru ke hijau toska pada waktu cerah yang dilanjutkan ke Danau Tondano yang terletak di kota Tondano. Selain itu, budaya dan perilaku suku Minahasa sangat bagus buat ditulis, tapi jadinya nanti post ini bakal terlalu panjang.

Pada hari Jumat, tepatnya setelah Shalat Jum’at kita kembali ke Jakarta dengan penerbangan pukul 13.30 WITA atau 12.30 WIB. Sama dengan sebelumnya, bokap gw harus terpisah karena naik Garuda, sedangkan gw, kakak gw dan nyokap naik Batavia Air. Penerbangan pulang kali ini cukup lebih baik dari keberangkatan karena Batavia Air yang gw naikin menggunakan Airbus A320 dan penerbangan langsung tanpa transit.

Menurut gw pribadi, gw harus kembali lagi ke sana suatu saat karena banyak obyek yang belum sempet gw liat. Seperti binatang Tarsius yang ada di Tangkoko Dua Sudara Wildlife Reserve, ikan purba Raja Laut atau yang terkenal dengan nama latin Coelacanth, serta ketika gw sudah bisa menyelam untuk melihat keindahan laut Bunaken lebih dalam.

NB : Semua foto dalam post ini murni foto dokumentasi gw ke sana, kecuali gambar terumbu karang bawah laut dan gambar tinutuan.

Indonesia, Ultimate In Diversity


Tempat Makan Di Bawah Rp 10.000,00 Sekitar Kampus (Part I)

June 29, 2009

Bagi gw sih Hidup Buat Makan bukan Makan Buat Hidup

Namanya daerah sekitar kampus, penjaja makanan dan minuman pasti menjajakan makanan dan minuman dengan harga di bawah rata-rata harga umumnya sebab pasar yang disasar adalah para mahasiswa kost-kostan dimana kondisi keuangannya terbatas. Hal ini berlaku di semua daerah kampus. Tapi, bukan berarti dengan harga murah, rasa masakan menjadi dikorbankan. Gw kurang setuju dengan ungkapan “Nek mahasiswa kui sing penting wareg, dudu penak’e”, kalau gw sih “Sing penting wareg, murah karo penak”, itu mah semua orang juga maunya begitu.
Jogja terkenal dengan wisata kulinernya, hali ini juga berlaku di kawasan Bulaksumur dan sekitarnya (Kampus UGM, UNY dan Universitas Sanata Dharma). Selama pengalaman gw berburu masakan berkualitas, gw mau berbagi sedikit rekomendasi tempat-tampat makan enak. Gratis lho, kalo di buku-buku rekomendasi tempat makan kan mesti bayar. Tempat makan gak disusun berdasarkan kategori karena post ini masih bersambung. Berikut yang udah pernah gw coba :

Sarapan Pagi
1. SGPC Bu Wiryo
Lokasi : Jl. Agro, Selokan Mataram, Belakang Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan.

SGPC atau Sego Pecel (Nasi Pecel) Bu Wiryo yang buka sejak 1959 ini sudah sangat terkenal. Banyak orang dari luar kota yang datang untuk mencicipi nasi pecel disini. Disini juga jadi langganan tokoh besar seperti Pak Boediono dan Andi Malarangeng sewaktu kuliah di UGM dulu. Campuran sayurnya hanya kacang panjang, tauge dan bayam yang disiram sambel kacang. Bagi gw, kayak Bondan bilang, rasanya Maknyuss! Selain itu, telor mata sapi yang dibuat disni benar-benar jernih tanpa gosong. Menu lain yang jadi andalan adalah Jus Tomat. Sayang, karena pamornya yang naik, maka harganya juga ikut naik. Sepiring nasi pecel harganya Rp 6.000,00, kalau ditambah telur, tambah Rp 3.000,00. Sudah tidak harga anak kost lagi.

2. Soto Sagan
Lokasi : Jl. Dewi Sartika, depan Warung SS Sagan
Lapaknya berupa warung tenda yang cuma buka tiap pagi. Soto yang disajikan berupa soto ayam dengan kuah santan dan segala atributnya. Rasanya gurih, dan kuahnya yang kental menjadi favorit meskipun kadang-kadang bumbunya kurang terasa. Harga soto Rp 4.000,00 dengan es teh/es jeruk Rp 1.000,00 dan Rp 500,00 untuk parkir kalau bawa kendaraan.

3. Bubur Ayam Jakarta
Lokasi : Jl. Agro, Selokan Mataram, depan Cheers Cafe.
Namanya jualan bubur ayam ya pasti cuma buka pagi, paling lambat tutup jam 11 siang. Bubur disini jadi langganan gw dan teman-teman selain karena rasanya enak, banyak mahasiswi cantik anak ekonomi, fisip atau psiko yang sarapan pake hot pants gitu, hehehe… Buburnya berisi suwiran ayam, cakwe, kacang dll. Seperti bubur lainnya, tapi bubur disini lebih terasa bumbu dan kuahnya, gak seperti bubur yang lain, terutama bubur di Burjo. Harga bubur ayam+es teh/es jeruk adalah Rp 4.500,00 ditambah Rp 500,00 buat parkir kalau bawa motor.

Sisanya ntar gw update lagi deh, soalnya masih kekurangan info mengenai tampat makan yang udah gw jajal.


Jogja Culinary : It’s Noodle Time!

November 14, 2008

Tinggal di Jogja ga afdol kalo ga nyoba nyicipin makanannya, karena di sini penuh dengan makanan-makanan khas yang menggugah selera, pokoke manteb tenan! Nek jarene Pak Bondan kui Mak Nyuss!! Nah, kali ini gw akan bahas 2 tempat makan yang patut dicoba karena gw menyambangi kedua tempat ini dalam waktu berdekatan. Kebetulan gourmet andalan mereka sama-sama mie. Dan mereka adalah…

1. RM Bungong Jeumpa
Jl. R. W. Monginsidi No. 40B, Yogyakarta

Dari namanya yang berbahasa Aceh, udah pasti RM ini nyediain masakan Aceh. Menu andalan di sini tentunya Mie Aceh. Letaknya tepat di sebelah pertigaan Jl. R.W. Monginsidi-Jl. Magelang, kalo anak UGM yang ngekos di Bulaksumur, bisa lewat Jetis. Waktu itu gw datang malam-malam dan mesen Mie Aceh Goreng, Roti Cane dan Kopi Aceh.

Ditilik dari bumbunya, Mie Aceh ini punya komposisi rasa pedas yang sedang, mungkin bagi lidah Jawa ini tergolong pedas, tapi untuk masakan Mie Aceh tergolong sedang. Mie-nya sendiri dilumuri bumbu yang gurih serta rasa rempah-rempah yang khas kerasa banget. Bumbu kari juga terasa meski pada mie goreng ga begitu kerasa, lebih kerasa kalo yang mie rebus. Variasi Mie Aceh di sini ada macem-macem, ada Mie Aceh Ayam, Daging Sapi, Rendang, dll.

Sedangkan Kopi Aceh lumayan kental dan legit, tapi gw kurang suka c dengan kopi murni begini. Gw lebih suka kopi campuran.

Sedangkan Roti Cane-nya lumayan enak disajikan dengan kuah kari. Sayang kari di sini agak terlalu banyak lemaknya dan kurang gurih dibanding dengan Roti Cane di Ruko Taman Yasmin, Bogor. Selain dengan bumbu kuah kari, Roti Cane bisa juga disajikan dengan gula kalau mau yang manis.

Harga Mie Aceh berkisar 10 ribu rupiah, cukup murah mengingat porsinya bisa untuk 2 orang. Sedangkan Roti Cane Kuah Kari berharga 6, 5 ribu dan Kopi Aceh berharga 3 ribu. Oya di sini juga sedia Martabak Telor khas Aceh loh…

2. Bakmi Kadin
Jl. Bintaran Kulon No. 6, Yogyakarta

Suatu malam ketika sedang membuat tugas gambar Rencana Fondasi, Balok Sloof dan Detail Fondasi Beton Bertulang, perut gw yang keroncongan mengingatkan gw bahwa gw belum makan malam. Makanya gw pun pergi ke luar untuk mencari makan….

Malam hari berkendara di daerah Sayidan, yang mengingatkan gw akan lagu Shaggy Dogg, “Di Sayidan…di jalanan”, gw berhenti di dekat kantor Kadin untuk membeli Mie Jawa dari Bakmi Kadin yang konon katanya sudah Top Margotop sejak dahulu kala.

Terletak di sebelah kantor Kadin (Kamar Dagang Indonesia), Bakmi Kadin ini tentunya menjual mie, yaitu Mie Jawa, salah satu Javanese Cuisine yang khas. Oya, penamaan Bakmi ga tepat karena bakmi berarti mie yang mengandung daging babi, sedangkan mie ini halal yang pastinya tanpa babi. Di sana gw beli Mie Jawa Goreng dibungkus buat dimakan di rumah dan ternyata harganya 17 ribu rupiah, yang menurut gw bisa makan satu hari penuh, tapi gak apa lah demi pengalaman.

Mie Jawa berbeda dengan Mie Goreng atau Mie Godog (Rebus) lainnya. Mie yang dimasak dalam tungku arang serta bumbu yang khas Jawa membuat mie ini berasa agak manis dengan aroma yang khas, serta tidak terlalu gurih. Pokoke Mie Jawa ini berasa soft di lidah, bertolak belakang dengan Mie Aceh tadi yang hard taste. Pokoke manetb lah, cakep…cakep banget (bukan CaKeb yang berarti Cah Kebumen). Untuk isi dari mie ini tidak berbeda dengan mie lainnya, umumnya terdiri dari suwiran ayam, potongan sayur, telur yang diorek-orek, bahasa Indonesianya apa ya, pokoknya gitu lah. Yang jelas yang khas dari Mie jawa ini ya rasanya yang manis itu dari bumbunya. Sayang gw belum nyoba yang Mie Godog, pernah c tapi bukan dari bakmi Kadin.

Oya, sejarah nama Bakmi Kadin ini udah jelas kalau diberi nama tersebut karena lokasinya di sebelah kantor Kadin, tapi belakangan ini dicari singkatan yang lebih bagus, yaitu diambil dari nama penjual pertamanya, KArto kasiDIN.