A Trip To Minahasa

July 20, 2009

IMG_3652

Sejak kelas 2 SMA, gw sekeluarga udah bercita-cita untuk liburan ke Manado. Akhirnya pada liburan kali ini, cita-cita itu terpenuhi. Hari Rabu sampai Jumat lalu, tepatnya tanggal 15-17 Juli 2009, gw menghabiskan waktu liburan gw dengan berlibur ke Tanah Minahasa, atau lebih tepatnya Sulawesi Utara. Berliburnya gw ke sini merupakan pertama kali gw mengunjungi daerah di Indonesia selain Sumatra, Jawa dan Bali.

Cerita berawal dari cita-cita, seperti yang gw tuliskan di atas, untuk berlibur ke Manado sejak kelas 2 SMA dulu. Waktu itu kita udah merencanakan obyek wisata yang akan dikunjungi saat liburan. Bali memang indah, tapi berhubung sudah pernah ke Bali, maka memutuskan untuk mencari tempat lain, maka 2 lokasi sudah didapat, yaitu Manado dan Lombok. Namun, berhubung kesibukan yang berbeda-beda dan sempitnya waktu tersedia, cita-cita itu baru tercapai di liburan kali ini. Berawal dari bokap yang mendapat dinas di Manado, kita pun berencana untuk liburan ke Manado. Rencana ini pun hampir gagal karena naiknya harga tiket pesawat dan sulitnya menyingkronisasikan waktu sekeluarga. Akhirnya, usut demi usut, waktu pun bisa disesuaikan dan tiket murah pesawat pun didapat dan berangkatlah kita.

Pada hari Rabu dini hari kira-kira jam 3 pagi, kita berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Di Soetta (Soekarno-Hatta), bokap gw berpisah sama gw, kakak gw dan nyokap karena bokap gw naik Garuda (akomodasi dinas) sedangkan gw, kakak gw dan nyokap naik Sriwijaya Air (swadaya). Sebenernya gw pengen naik Garuda sih karena pesawatnya Boeing 737-800 NG sedangkan Sriwijaya pesawatnya Boeing 737-400, selain itu kalau di Garuda dikasih makan siang, di Sriwijaya Cuma dikasih snack. Pesawat bokap gw transit di Bandara Hassanudin, Makassar sebelum ke Manado, sedangkan pesawat kita transit di Bandara Juanda, Surabaya, terlebih dahulu. Ada satu pemandangan menarik sebelum pesawat mendarat di Bandara Juanda yaitu terlihatnya Gunung Bromo yang indah dari udara. Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 3 jam, kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado pukul 11.00 WIB atau 12.00 WITA (di Manado menggunakan WITA). Lebih menakjubkan lagi, sebelum mendarat dari pesawat kita disuguhkan pemandangan Bukit Tomohon dan kota Manado beserta laut Taman Nasional Bunaken yang indah dan bersih dimana ditengahnya terdapat Pulau Bunaken dan Gunung Berapi Manado Tua. Pesawat kemudian berputar dan melewati shoreline Pantai Lakban yang indah dengan pasir putih dan laut biru muda yang indah sebelum akhirnya pesawat mendarat.

Akhirnya sampai juga di Manado, ibukota Sulawesi Utara, tanah Minahasa. Berhubung pesawat kita mendarat lebih dahulu daripada pesawat bokap, maka menunggulah kita di bandara. Selagi menunggu, gw datengin Tourism Information Centre dan mengambil beberapa brosur lokasi wisata di Sulawesi Utara, setelah itu ke weaving gallery untuk memotret-motret pesawat yang mendarat atau lepas landas. Setelah bokap sampai, kita dijemput pegawai Bank Mandiri cabang Manado dan diantarkan ke hotel di kota Manado. Dari hotel, bokap langsung pergi dinas ke Bitung, sedangkan kita tidur dan istirahat dulu di hotel setelah 3 jam berada di pesawat yang sempit.

Goin Underwater

IMG_3678

Hari kedua di Manado, kita sekeluarga berwisata ke Taman Laut Nasional Bunaken. Dari hotel kita naik taksi ke dermaga untuk naik boat ke Bunaken. Sampai di sana, langsung kita dikerebutin calo-calo yang menyewakan kapalnya. Untung di sana ada petugas dari Dishub yang menjaga jadi kita diberikan angkutan yang resmi dan naiklah kita ke sebuah boat. Boat ini berukuran cukup besar, bisa menampung hingga 20 penumpang, dan karena kita cuma berlima (gw sekeluarga ditambah teman kantor bokap yang juga berdinas) jadi terasa lega sekali. Susunan kursi berjajar seperti angkot, ada fasilitas kamar ganti buat yang pengen diving atau snorkling dan di antara deretan kursi tersedia tabung kaca yang dapat diturunkan sehingga dari boat tersebut kita bisa melihat pemandangan bawah laut yang terdiri atas beraneka ragam terumbu karang beserta biota-biota laut lainnya yang indah.

Perjalanan dari dermaga ke Bunaken memakan waktu 30 menit. Dengan angin laut yang menghembus damai membuat suasana jadi ngantuk tapi pemandangan kota Manado di bawah bukit Tomohon beserta pemandangan Gunung Berapi Manado Tua dari kejauhan, laut yang biru bersih dan tenang tanpa ombak menjadikan ngantuk itu hilang. Gw dan kakak gw asik memotret-motret pemandangan.

Mendekati Taman Laut Bunaken, warna laut yang sebelumnya biru tua kini didominasi warna biru muda yang berarti terdapat banyak terumbu karang yang kedalamannya cukup rendah dari permukaan laut. Tabung kaca di antara deretan kursi pun diturunkan melewati permukaan laut dan….Magnificent!! Pemandangan beraneka ragam coral reef berwarna-warni yang indah ditambah kumpulan ikan yang hidup di terumbu karang tersebut yang begerombol. Ikan-ikan yang bergerombol juga ikan-ikan yang indah, berwarna-warni dan berbgai bentuk. Ikan Ocellaris Clownfish yang terkenal lewat film animasi Finding Nemo pun bisa dilihat dari sini. Selain itu, di laut dalam Bunaken juga terdapat Sea Sponge yang dijadikan ikon kartun Spongebob Squarepants, sayang gw gak bisa liat karena ada di laut dalam dan perlu diving kalau mau liat. Terkadang di antara gerombolan ikan itu gw liat gelembung udara yang menyembur di dalam laut, setelah diliat ternyata para diver yang menyelam menikmati keindahan bawah laut di sana. Selain keindahan terumbu karang dan biota lautnya, Taman Laut Nasional Bunaken juga terkenal dengan struktur bawah laut yang terdiri dari banyak jurang, gua-gua laut dan terowongan karang.

IMG_3701

Setelah puas menikmati pemandangan bawah laut, boat merapat ke pier di Pulau Bunaken. Di sana kita singgah sebentar dan gw sama kakak gw menyewa peralatan untuk snorkling terdiri dari tabung snorkle, kacamata renang dan sepatu katak. Sebenarnya peralatan untuk meyelam juga disediakan, tapi kalau mau diving harus benar-benar seorang diver dan memiliki sertifikat. Gw dan kakak gw pun segera naik boat lagi dan menuju salah satu spot untuk untuk snorkling. Selama snorkling kita ditemani seorang pemandu yang bertugas menjaga kita takut-takut kita tenggelam. Setelah nyebur ke air dan menyelam, gw bisa melihat dengan mata gw sendiri secara langsung suatu keadaan yang indah. Gw berada di dalam laut, di antara terumbu karang yang indah dan ditemani gerombolan ikan-ikan kecil berwarna-warni, terkadang gerombolan ikan tersebut bisa banyak banget sampai bentuknya seperti angin puyuh. Untungnya karena gak jauh-jauh di dalam laut, gw gak ketemu ikan hiu. Lalu gw keluarkan biskuit yang udah diremukkin dan gw umpanin ke ikan-ikan tersebut. Gak usah susah-susah, cukup disebarkan di depan tangan dan gerombolan ikan pun langsung menyerbu ke arah tangan gw dan memakan dengan rakus, saking rakusnya sampe tangan gw digigit-gigit, tapi tenang saja, it doesn’t harm you at all. Sepanjang coral reef gw ngeliat beberapa bintang laut ditambah bulu babi dan benalu laut yang kalau disentuh bakal nguncup kayak putri malu. Kadang-kadang seking asiknya snorkling, beberapa kali gw sempet masuk ke daerah jurang laut (zona abisal) dan nyelem ke sana, tapi makin dalam gw masukkin dalamnya makin pekat, akhirnya gw balik lagi dah, gak berani gw.

Setelah kurang lebih 90 menit snorkling, kita pun balik ke boat dan balik ke Pulau Bunaken. Rencananya sih mau mandi karena badan dan mulut udah asin dengan air laut, tapi setelah tau air di kamar mandinya air laut, gak jadi deh, percuma saja. Kita sekeluarga pun pulang ke Manado dan mungkin karena kecapean setelah snorkling jadi ngantuk dan tertidur di boat.

Wisata Kuliner

DSC00900

Travelling tidak lengkap tanpa wisata kuliner, tidak terkecuali di Manado ini. Malam pertama di Manado kita makan di sebuah resto laut, menunya tentunya Sea Food. Malam itu kita makan Ikan Kuwe Bakar, Kerapu yang dimasak dengan sayur Woku Belanga, Calamari dan dilengkapi dengan Sambal Dabu-Dabu. Semuanya makanan khas Minahasa, selain Calamari tentunya. Woku Belanga merupakan masakan yang terdiri atas bumbu-bumbu macam cabe, lada hitam, jeruk nipis, daun jeruk dan tambahan lainnya. Rasanya berasa asam dan pedas. Maknyuss! Sedangkan Sambal Dabu-Dabu adalah sambal yang terdiri atas berbagai macam irisan sambal sepeti cabe, tomat, bawang dll. Rasa pedasnya diiringi rasa asam dari jeruk nipis. Pedasnya gak kalah mantap dari sambel bajak SS.

Paginya, dalam Buffet Breakfast di hotel, gw mencicipi Tinutuan atau Bubur Manado yang sudah terkenal di mana-mana. Bumbunya terdiri atas nasi (bukan bubur), jagung, kentang manis, labu, daun lemon, bawang putih dan lainnya. Rasanya bernuansa kecut dan asam serta gurih. Kalau disantap dengan sambal, top margotop deh!
Untuk kue, manisan dan oleh-oleh, dari Manado ada pastry yang terkenal yaitu Klappertaart, tart kelapa dengan kismis dan kacang kenari. Selain itu ada Bagea yang dibuat dari tepung beras dan kenari. Pokoknya kue khas Manado harus ada kenari-nyalah intinya.

Tinutuan-Bubur Manado

Well, that’s all the stories of my trip in the land of Minahasa. Sebenernya masih ada yang pengen gw tulis dari perjalanan di Sulawesi Utara macam ke Bukit Tomohon melihat Danau Linow yang berubah warna dari biru ke hijau toska pada waktu cerah yang dilanjutkan ke Danau Tondano yang terletak di kota Tondano. Selain itu, budaya dan perilaku suku Minahasa sangat bagus buat ditulis, tapi jadinya nanti post ini bakal terlalu panjang.

Pada hari Jumat, tepatnya setelah Shalat Jum’at kita kembali ke Jakarta dengan penerbangan pukul 13.30 WITA atau 12.30 WIB. Sama dengan sebelumnya, bokap gw harus terpisah karena naik Garuda, sedangkan gw, kakak gw dan nyokap naik Batavia Air. Penerbangan pulang kali ini cukup lebih baik dari keberangkatan karena Batavia Air yang gw naikin menggunakan Airbus A320 dan penerbangan langsung tanpa transit.

Menurut gw pribadi, gw harus kembali lagi ke sana suatu saat karena banyak obyek yang belum sempet gw liat. Seperti binatang Tarsius yang ada di Tangkoko Dua Sudara Wildlife Reserve, ikan purba Raja Laut atau yang terkenal dengan nama latin Coelacanth, serta ketika gw sudah bisa menyelam untuk melihat keindahan laut Bunaken lebih dalam.

NB : Semua foto dalam post ini murni foto dokumentasi gw ke sana, kecuali gambar terumbu karang bawah laut dan gambar tinutuan.

Indonesia, Ultimate In Diversity


Airbus A320 Dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

May 23, 2009

Untuk meningkatkan kapasitas bandara yang dinilai sudah tidak memadai, PT Angkasa Pura II membangun terminal baru yang disebut Terminal 3 atau T3.

Hari Kamis kemarin, 21 Mei, gw pulang ke Bogor dari Jogja naik pesawat. Alasan kenapa gw pulang sebenarnya berawal dari ajakan beberapa temen yang mau pulang tanggal 21 Mei. Sebutlah mereka bernama Galih dari Bekasi, Latief dari Tangerang sama Ryan dari Jakarta (nama asli loh). Awalnya gw gak ada niat pulang karena pemilu kemarin gw udah pulang, tapi begitu melihat bahwa hari Kamis libur ditambah Jumat ga ada kuliah (masa?) dan hari Sabtu dan Minggu kosong, gw jadi berminat buat ikut. Ditambah hari Sabtu ada Smansaday lagi. Makanya gw pun memutuskan buat pulang lagi! Oke, rencana kita pulang hari Kamis dan balik lagi hari Senin. Iseng-iseng lah kita cari tiket promo. Eh, eh, dapet lah kita tiket promo, yeah! Air Asia hari Kamis, tanggal 21 Mei 2009, penerbangan sore harga tiketnya IDR 197.000. Yah, karena belinya di agen tiket kena charge lah jadinya IDR 217.000. Perlu diketahui kalau tiket promo semakin jauh hari kita memesan harganya semakin murah, bisa sampe hanya IDR 35.000 loh. Cuma, namanya tiket promo kan non-refundable ticket, jadi kalau pas hari keberangkatan kita ada urusan mendadak dan ngebatalin tiket, uang kita hangus lah. Tiket Air Asia ini gw beli 2 minggu sebelum keberangkatan, sebelumnya waktu gw balik ke Jogja dari Bogor bulan lalu, gw beli tiket Lion Air H-3 sebelum keberangkatan harganya cuma IDR 270.000. Makanya kita mesti pinter-pinter nentuin waktu kalau mau cari tiket promo. Lalu penerbangan sore lebih murah daripada penerbangan sore karena penerbangan sore umumnya cuacanya kurang baik. Nah, kalau gw naik kereta api eksekutif kayak Bima dan Taksaka, budget yang gw keluarin sekitar IDR 190.000-220.000 dengan waktu perjalanan sampai di Stasiun Gambir 8 jam, belom ditambah buat KRL Pakuan Ekspress. Sedangkan naik pesawat dengan harga lebih mahal sedikit tapi lebih efisien karena hanya dalam 1 jam sudah sampai di Cengkareng.
Hari-H, kita memutuskan buat cari tumpangan sendiri-sendiri ke Bandara. Gw numpang sodara gw buat nganterin ke airport naik motor, daripada naik taksi keluar IDR 35.000, toh gw gak bawa bagasi ini. Sampe di Bandara Adisutjipto, check in, sholat dan bla bla bla, akhirnya kita boarding jam 16.30.

DSC00805

Air Asia menggunakan pesawat baru Airbus jenis A320. Umumnya maskapai penerbangan pake pesawat Boeing 737-400. Lion Air kemarin gw naikin pesawatnya Boeing 737-900 ER, pesawat keluaran Boeing terbaru juga. Nah, kebetulan gw kepingin ngerasain gimana rasanya naik Airbus. Secara umum sih sama saja, tapi bunyi mesin turbin Rolls-Royce pada A320 lebih halus dari bunyi mesin Boeing 737-400. Gw lebih suka bunyi mesin General Electric pada Boeing 737-400 karena suaranya lebih menggelegar.

DSC00821

Selama penerbangan, cuaca kurang bersahabat dan terkadang pesawat mengalami turbulensi. Dengan keadaan pesawat kurang stabil karena turbulensi, ditambah ibu-ibu yang duduk di sebelah gw zikir sambil pegang tasbih dengan sangat khusyuk, gw sempat was-was dan berprasangka buruk bakal ada apa-apa, untunglah pesawat mendarat dengan selamat dan sampai on-schedule.

DSC00830

DSC00832

Terminal 3! Akhirnya gw bisa ngerasain terminal baru di Bandara Soetta ini. Terminal yang baru selesai dibangun dan diresmikan bulan April 2009 ini memiliki arsitektur modern dengan konsep eco-futuristik, sebuah desain modern dengan konsep yang ramah lingkungan. Konsep desain yang sama dengan arsitektur Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Menurut gw, dari segi desain, terminal ini lebih bagus daripada desain KLIA. Terminal 3 ini baru dioperasikan 2 maskapai penerbangan, yaitu Indonesia Air Asia dan Mandala Airlines. Bangunan berbentuk huruf L, terdiri atas 2 lantai. Lantai 1 untuk Kedatangan dan Lantai 2 untuk Keberangkatan.

DSC00836

DSC00839
Turun dari pesawat kita berjalan masuk ke terminal dan langsung dihadapkan ke ruang Baggage Claim (Pengambilan Bagasi) yang dilanjutkan ke terminal kedatangan. Fasilitas yang sudah tersedia antara lain layanan Transit, Lost And Found, Information Centre, layanan internet dan layanan standar bandara pada umumnya. Kelebihannya disini ada fasilitas air minum gratis. Sayangnya tenant pengisi tempat makan disini masih sedikit, baru ada Circle-K, J.Co dan CFC. Gw yang waktu itu kelaparan karena belom makan akhirnya membeli nasi teriyaki di CFC dengan minum dari fasilitas air minum gratis, kere banget yaks! Akhirnya kita berpisah dengan pulang ke rumah masing-masing dan gw naik Damri ke Bogor.


Dimas Diajeng Teknik Sipil

April 23, 2009

Dalam memperingati Hari Kartini, di Teknik Sipil diadakan serangkaian acara yang bernama “All The Ladies”.

Salah satu rangkaian dari acara itu adalah pemilihan Dimas-Diajeng teknik sipil, semacam pemilihan Abang-None atau Mojang-Jajaka gitu, tapi ini cuma tingkat jurusan, jadi bukan acara besar juga lah. Dari 8 pasangan yang ikut berkompetisi, gw ikut sebagai salah satu peserta. Bagaimana ceritanya gw yang ga pernah tampil di muka umum ini bisa ikutan? Kita simak runtutan ceritanya di bawah ini.

Awal Mula

Semua berawal ketika UTS Statistika dan Probabilitas, UTS terakhir, selesai. Seorang teman sekelas yang bernama Hikmah sedang bete mukanya karena temennya yang lain, namanya Tata, nyuruh-nyuruh dia buat ikutan Dimas-Diajeng buat ngewakilin kelas B (kelas gw), sedangkan dia sendiri ga mau. Gw yang lagi lewat gitu tiba-tiba dikasihin kertas sama dia yang ternyata kertas formulir pendaftaran Dimas-Diajeng. Dan secara tiba-tiba (lagi) gw yang disuruh-suruh sama Tata buat ikutan.

“Van, kamu ikutan ya bareng Hikmah buat jadi Dimas-Diajeng ngewakilin kelas B?”

“Dimas-Diajeng?Semacam Abang-None gitu?”, jawab gua.

“Iya, ayo dong buat kelas B!!”

“Kenapa mesti aku (kalo ngomong sama orang non-Jabodetabek mesti pake aku-kamu), yang lain aja lebih cocok kayak c Mr. X”, bales gw lagi.

“Ayo dong, soalnya ga ada yang lain kamu sama dia sama-sama tinggi, jadi cocok,”

Gw yang tidak berminat, berkata, “Tuh, c Hikmah-nya ga mau, jadi ga usah ya…”.

Pembicaraan hari itu pun berakhir.

Hari Selasa, H+3 pasca obrolan di atas dan H-1 acara pemilihan Dimas Diajeng, gw pergi ke Toko Buku Toga Mas mencari kado ulang tahun buku bacaan. Di tengah asik-asiknya membaca, tiba-tiba c Hikmah nelpon nanya persiapan gw buat besoknya. Gw spontan bingung, besok apanya? Terus dijawab, “Dimas-Diajeng!!”. Oh sh*t!!! Gw yang jelas-jelas keberatan buat ikutan acara kayak gitu karena gw ga bisa ngomong di depan ditambah mendadak begini otomatis menolak matang-matang mentah-mentah. Tapi, c Hikmah terus memaksa ditambah temen-temen sekelas nyuruh-nyuruh, akhirnya gw pun meng-iya-kan secara ga langsung.

Persiapan

Dresscode-nya adalah Batik. Jadi, ga masalah buat gw, tinggal memakai Batik Pekalongan yang gw punya itu. Tapi c Hikmah ga punya dan dia ngajakin buat nyari batik ke Mirota Batik. Aduh, buat acara sekali aja pake beli, padahal di Mirota Batik harganya kisaran 80-200 ribuan. Akhirnya kita berangkatlah secara terpisah. Setelah sampe di Mirota Batik, dia sms, “Nanti jam 4 jemput di kostan ya, tadi dompetnya ketinggalan, hheee…”, Masya Allah….apa salah hamba-Mu ini ya Allah. Menunggu jam 4, gw yang udah di Mirota Batik pun melanjutkan saja ke dalam toko, mencari kado ulang tahun satu set Poker Wayang. Pada akhirnya karena ada bentrokan jadwal antara gw dan Hikmah, ga jadilah kita mencari batik bersama dan Hikmah pun mencari batik sendiri atau sama siapalah.

Hari-H

Semalam c Hikmah bilang masing-masing dari kita suruh buat 200 kata tentang diri sendiri dan tentang wanita zaman sekarang, ada di formulir pendaftaran. Bodohnya, tanpa membaca formulir, 200 kata yang harusnya diketik itu gw anggap sebagai bahan pidato, jadi gw cuma mengingat-ingat di kepala aja tanpa ditulis. Toh, gw lagi sibuk bikin Peta Kontur.

Paginya, gw jemput Hikmah di kostannya. Setelah tahu kalau 200 kata itu mesti diketik, keadaan jadi panik. Rencana diubah dari perjalanan ke kampus menjadi ke warnet. Saking buru-burunya, sambil ngetik, sambil ganti baju pake batik dan disisirin c Hikmah. Setelah selesai kita pun berangkatlah ke kampus. Di sini gw bener-bener ga ada persiapan, bahkan gw ga melampirkan piagam. Eh, tapi emang gw punya prestasi apa?

Acara diadakan di Ruang Sidang Biru JTSL FT UGM. Pada saat acara, kita kebagian nomor urut 2. Ga habis-habis dah Bad Luck gw tuh. Pasangan pertama nampilin puisi. Spontan kita yang punya persiapan buat apresiasi seni langsung panik. Secara dadakan, gw bikin aja semacam renungan tentang wanita (temanya tentang wanita), isinya gw ambil dari artikel yang gw pernah baca waktu SMA dulu.

Oke. Akhirnya kita maju. Pertama dimulai dengan perkenalan, presentasi tentang profil diri sendiri, prestasi dan dilanjutkan dengan apresiasi seni. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Lalu gw dan Hikmah diberi pertanyaan masing-masing. Gw dapet pertanyaan, “Apakah hubungannya lingkungan dengan manusia?”. Gw jawab aja dengan bla…bla…bla..yang jelas secara singkat, singkat sekali malah sampe MC-nya nanya, “Sudah segitu aja? Yakin?”. Secara keseluruhan penampilan kita lumayan baiklah. Setidaknya, tidak memalukan, menurut gw. Perkara menang c gw gak peduli. Syangnya, gw ga ikut acara sampai akhir. Soalnya seselesai kita tampil tadi bertepatan dengan waktu kuliah Kalkulus II. Dan gw lebih memilih ikut kuliah…..


Dari Busway Sampai Subway

April 19, 2009

Kalau anda orang yang senang jalan-jalan, atau orang yang sedang merantau, artinya meninggalkan hometown dan menetap di kota lain untuk suatu tujuan, harusnya anda sudah familiar dengan macam-macam kendaraan umum.

Gw sendiri senang jalan-jalan dan sedang merantau, meninggalkan rumah di Bogor dan menetap di tanah Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mewujudkan cita-cita dengan belajar di universitas perjuangan pertama yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia ini. Dari berbagai kota yang disambangi, banyak macam angkutan umum yang udah gw sambangin. Berapa macam yang pernah anda sambangi?


Kalau gw pergi ke Jakarta dari rumah (Bogor), paling sering naik Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Ekspress. Naiknya di Stasiun Bogor dan turunnya biasanya di Stasiun Gambir atau Stasiun Kota tapi lebih sering ke Stasiun Kota. Keretanya eks Jepang, selain nyaman, ber-AC, Pakuan Ekspress yang namanya juga kereta ekspress cuma berhenti di beberapa stasiun jadinya perjalanan lebih singkat. Dengan tarif Rp 11.000,00 dari Stasiun Bogor bisa sampe Stasiun Beos (Stasiun Kota) dalam 1,5 jam. Di Jogja sendiri ada juga kereta ekspress semacam Pakuan Ekspress, namanya Prambanan Ekspress tapi biasa disebut Prameks. Prameks melayani jalur dari Purworejo-Yogyakarta-Solo dengan harga tiket Rp 7.000,00. Prameks juga lewat Stasiun Maguwo jadi kalau kita mau ke bandara dari Jogja atau sebaliknya bisa juga naik ini. Tapi kereta ini bukan KRL tapi KRD (Kereta Rel Diesel), maklum jalur kereta dengan tenaga listrik baru ada di Jabodetabek. Selain itu, meskipun sama-sama ber-AC, gw rasa Pakuan Ekspress lebih nyaman.

Nah, kalau menyusuri Jakarta pasti gw naik Busway lah. Semua orang pasti tahu Transjakarta Busway atau yang biasa disebut Tije ini. Dulu waktu pertama kali dioperasikan, Busway yang merupakan BRT (Bus Rapid Transit) ini dapat tanggapan negatif dari orang-orang karena dinilai tidak efektif sebagai solusi permasalahan transportasi, tapi sekarang justru banyak diminati orang-orang karena selain murah (tiket seharga Rp 3.500,00 dan Rp 3.000,00 untuk peak hour), nyaman, headway yang cepat dan stabil, juga kelancarannya terjamin karena Busway punya jalur sendiri (Bus Priority). Dari 1 koridor dibangun pada awalnya, sekarang udah dibangun 10 koridor, 8 koridor sudah operasional dan 5 koridor akan dibangun, menghubungkan Jakarta dengan daerah penyangga kayak Bekasi, Tangerang, Depok, UI. Sampe sekarang, gw baru pernah naik Busway di Koridor I, II dan III, yang paling sering Koridor I karena emang seringnya gw ke daerah Sudirman-Thamrin. Biasanya dari Bogor naik Pakuan Ekspress trus disambung Busway koridor I.

Di Jogja juga ada BRT kayak Transjakarta Busway, namanya Transjogja. Transjogja yang merupakan buah hasil kerjasama dari Pemprov DIY dan MSTT JTSL FT UGM (Magister Sistem Teknik Transportasi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada) ini punya beberapa perbedaan dengan Busway. Transjogja bukan angkutan jenis Bus Priority jadinya ga punya jalur sendiri dan mixed traffic dengan kendaraan lainnya. Sistem trayeknya sama-sama Hub And Spoke, tapi untuk Transjogja ga berupa koridor-koridor lurus tapi berupa jalur pelayanan lewat daerah-daerah tertentu. Gw kadang-kadang memanfaatkan Transjogja ini untuk bertransportasi. Salah satunya waktu mengerjakan tugas laporan tentang bangunan transportasi. Waktu itu gw memantau Moda Transportasi Terpadu di Bandara Adisutjipto. Berangkat dari Halte Kopma UGM, turun di Halte Adisutjipto. Halte ini salah satu bagian dari Moda Transportasi Terpadu selain Stasiun Maguwo yang melayani jalur Prameks. Halte dan stasiun ini dihubungkan ke terminal bandara dengan sebuah underpass. Jadi kalau dari bandara ke kota atau sebaliknya, kita bisa langsung naik Transjogja atau Prameks. Kelemahan dari Transjogja ini ada pada headway antar bus yang lama. Maklum, Transjogja ga punya jalur sendiri. Tapi dengan nyaman kita bisa bepergian sambil liat pemandangan kota Jogja. Alon-alon waton kelakon.


Waktu ke KL (Kuala Lumpur) dulu, gw sempat mencoba naik KLIA Ekspress, kereta bandara yang menghubungkan KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dengan kota KL. Nama stsiun di kotanya kalo ga salah Stesen Sentral Kuala Lumpur. Harga tiketnya cukup mahal sih, gw juga udah lupa berapa, tapi lumayan lah dengan service yang diberikan. Keretanya berjalan dengan halus tanpa goncangan, interiornya mirip kereta api bisnis dengan seat saling berhadapan, masing-masing dilengkapi LCD TV untuk advertisement. “Perjalanan memakan waktu 28 minit”, kata operatornya dan sepanjang perjalanan dilihatkan pemandangan kebun kelapa sawit yang statis. Di kotanya sendiri angkutan massal menggunakan Monorail, namanya KL Monorail. Waktu itu gw nyoba naik dari Stesen Ampang, dekat Petronas Tower dan turun di Stesen Bukit Bintang (bukan Bukit Bintang di Wonosari loh!). Sepanjang perjalanan, gw bisa melihat pemandangan kota dari kereta layang itu. Harga tiketnya kalau ga salah sekitar 2 RM. Bagaimana dengan Jakarta? Tiang-tiang pancang proyek JM (Jakarta Monorail) yang terlantar itu gw harap bisa dilanjutkan lagi hingga selesai sehingga warga Jakarta juga bisa menggunakan Monorail untuk berpergian.


Anda tahu MRT(Mass Rapid Transport)? Dari negara-negara di ASEAN ini, hanya Singapura yang punya MRT yang biasa disebut Subway atau kereta bawah tanah ini. Gw pernah nyoba naik Singapore MRT dari Orchard Road ke Marina Bay dan ke Fullerton, dimana terdapat teater Esplanade yang terkenal itu dan Patung Merlion yang jadi ikon Singapura itu. Beli tiketnya lewat vending machine dan harganya berkisar antara 2$-3$ Singapore Dollar, tergantung jarak yang ditempuh. Naik subway bagi gw kurang menyenangkan karena sepanjang perjalanan ga bisa liat pemandangan.

Ada lagi pengalaman naik kendaraan umum jarak jauh, tapi nanti gw bahas di post selanjutnya.


(Beberapa) Buku Teknik Sipil Langka, Benarkah?

February 20, 2009

pict0495

Wah, akhirnya nge-post juga! Setelah ditunggu-tunggu selama dua bulan tidak ada post baru di blog ini sampe jamuran. Makasih buat bapak dosen Mekanika Fluida, Pak Djoko Luknanto yang secara gak langsung telah mengembalikan semangat saya untuk nge-post lagi.

Oke, di post ini gw mau sedikit cerita tentang lika-liku gw dalam mencari buku buat kuliah.

“(Beberapa) Buku Teknik Sipil Langka, Benarkah?”

Teknik Sipil? Tentunya sekarang sudah menjadi ilmu yang umum, buktinya mayoritas perguruan tinggi punya program studi yang satu ini dan buku referensinya pasti banyak beredar dimana-mana. Tapi anehnya gw masih aja susah untuk menemukan beberapa buku referensi yang gw butuhin untuk kuliah.

Selama gw kuliah di UGM, beberapa tempat jadi langganan gw buat nyari buku. Kalau mau murah dan lengkap, carilah pusat buku-buku murah, yah semacam pusat buku murah di daerah Kwitang lah. Di Jogja ada dua tempat buat ngedapetin buku-buku murah, Shopping Centre yang lokasinya diapit Taman Pintar dan Taman Budaya dan kios-kios buku di Terban, depan SMAN 6. Bedanya dengan toko buku, buku-buku di sini ga disusun sesuai kelompoknya, jadi kalau mau nyari buku kita tinggal bilang judul bukunya plus penerbit atau pengarangnya ke penjualnya, nanti dicariin bukunya sama yang jual, tawar harganya, bayar. Mungkin agak susah buat ngedapetin buku yang sesuai dengan keinginan kita, terutama kalau kita ga pernah liat buku yang kita cari atau yang jualnya ga paham buku yang kita cari. Tapi melihat harganya yang cuma 70 % dari harga buku di toko buku, dan masih bisa ditawar, mencari buku di sini jelas lebih efisien.

pict0498

Nah, di dua tempat itulah gw mencari buku referensi buat kuliah di smester II ini. Semester ini gw belajar Statistika dan Probabilitas sama Matematika II (Kalkulus II), mata kuliah program studi MIPA yang dibutuhkan di bidang Teknik Sipil. Nyari buku referensi buat dua mata kuliah di atas ga susah. Semua buku yang gw butuhin terpenuhi, karena itu semua termasuk mata kuliah umum. Lalu ada Geomatika (nama umumnya Ilmu Ukur Tanah), mata kuliah program studi Geodesi dan Geomatika sama Pengantar Geologi Teknik, mata kuliah program studi Geologi. Mata kuliah yang terakhir ini sampe sekarang buku referensinya ga berhasil gw temukan. Cari dimana-mana pasti percakapannya kira-kira kayak begini :

“Mas, ada buku Pengantar Geologi Teknik? Penerbitnya Biro Penerbit Teknik Sipil”, gw tanya.

“Wah, ga eneng yo, mas. Coba mas’e liat di toko lain”, jawab si penjual.

“Kalo Geologi Untuk Teknik Sipil? Penerbitnya Erlangga”

“Ga ada juga ya, mas”

“Buku tentang Geologi Teknik ada gak, mas?”

“Ga ada”

Yang paling rese, ada beberapa kios yang penjualnya baru gw sebutin judul bukunya udah bilang ga ada. Masa c beneran ga ada? Kenapa ga nyari dulu kek, liat dulu kek, malas amat. Sempet gw kesel, gw tes yang jualan. Di kiosnya gw liat ada buku Analisis Struktur di tumpukan buku di bagian atas, langsung gw pura-pura nanya,

“Ada buku Analisis Struktur ga, mbak?”

“Ga ada tuh”, spontan dijawab si mbak.

Damn it! Ga niat banget c mbak ini! Udah jelas-jelas gw liat ada buku Analisis Struktur, seking malasnya sampai dia lebih memilih bilang ga ada daripada menoleh sedikit untuk mencari.

Selain Pengantar Geologi Teknik, buku referensi mata kuliah Struktur Bangunan waktu semester I juga ga berhasil gw dapetin. Temen-temen yang lain gw tanyain juga bernada sama, susah nyari buku buat dua mata kuliah ini. Beberapa senior yang gw tanyain malahan lebih dominan pake buku copyan dan diktat buat belajar, katanya karena beberapa buku emang susah dicari.

Buat mata kuliah yang lain macam Analisis Tegangan, Regangan dan Deformasi (Mekanika Bahan), Teknik Lalu Lintas, Ilmu Lingkungan, dan Mekanika Fluida (Hidraulika) masih lumayan mudah didapat walau bukunya beberapa ga sesuai rekomendasi dosen. Ah, peduli amat, yang penting isinya sesuai. Beberapa rekomendasi dosen malah buku impor. Jangan berharap buku impor yang pengarangnya dari luar, apalagi yang belom diterjemahkan, pasti ga dapet, kecuali beli di Kinokuniya Book Store. Mending cari aja di internet, banyak e-Booknya yang tersedia gratis!!!