SBY Anti Koruptor

June 29, 2009

Setelah sekian lama hiatus, akhirnya gw memutuskan buat mulai nge-post lagi. Kalau membuat review tentang film-film gw rasa udah banyak yang buat review jadi gw rasa ga perlu nulis post yang isinya sejenis, maka dari itu gw review mengenai sebuah software game dari sebuah kempanye pemilihan presiden dari salah satu calon, yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, presidenku (emang iya kan?).

preview-1Sebuah terobosan dalam dunia pemilihan presiden, yaitu kampanye menggunakan game. Game ini judulnya SBY Anti Koruptor. Sebuah game yang sederhana dan singkat, tapi cukup menghiburlah. Gw dapet game ini dari kakak gw, yang mengaku mendapatkan dari salah seorang dosennya yang bernama David Setiabudi. David Setiabudi dikenal sebagai pembuat game mini untuk anak-anak yang berjudul Divine Kids, game buatan Indonesia pertama, pasti pernah denger kan?

preview-5Nah, intinya game ini menunjukkan bahwa SBY giat memberantas korupsi, meskipun gameplay-nya gak menunjukkan usaha pemberantasan korupsi. Game ini dibagi jadi 2 stage, yaitu desa dan kota. Untuk stage desa, game berupa memukul tikus-tikus yang keluar dari lubang. Seperti kalau main di Timezone gitu loh. Untuk stage kota, game berupa SBY naik pesawat menembak tikus-tikus yang naik peswat. Singkat dan sederhana. Dan di akhir game, kalau berhasil, pasti muncul slogan yang melambangkan Partai Demokrat.

preview-8Menarik juga melihat terobosan baru kampanye lewat game. Apapun pilihannya nanti semoga presiden kita selanjutnya adalah presiden yang tepat. Sesuai iklan sosialisasi pemilu di kereta, “Pemilih Cerdas Memilih Pemimpin Berkualitas”.

LANJUTGAN!


Airbus A320 Dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

May 23, 2009

Untuk meningkatkan kapasitas bandara yang dinilai sudah tidak memadai, PT Angkasa Pura II membangun terminal baru yang disebut Terminal 3 atau T3.

Hari Kamis kemarin, 21 Mei, gw pulang ke Bogor dari Jogja naik pesawat. Alasan kenapa gw pulang sebenarnya berawal dari ajakan beberapa temen yang mau pulang tanggal 21 Mei. Sebutlah mereka bernama Galih dari Bekasi, Latief dari Tangerang sama Ryan dari Jakarta (nama asli loh). Awalnya gw gak ada niat pulang karena pemilu kemarin gw udah pulang, tapi begitu melihat bahwa hari Kamis libur ditambah Jumat ga ada kuliah (masa?) dan hari Sabtu dan Minggu kosong, gw jadi berminat buat ikut. Ditambah hari Sabtu ada Smansaday lagi. Makanya gw pun memutuskan buat pulang lagi! Oke, rencana kita pulang hari Kamis dan balik lagi hari Senin. Iseng-iseng lah kita cari tiket promo. Eh, eh, dapet lah kita tiket promo, yeah! Air Asia hari Kamis, tanggal 21 Mei 2009, penerbangan sore harga tiketnya IDR 197.000. Yah, karena belinya di agen tiket kena charge lah jadinya IDR 217.000. Perlu diketahui kalau tiket promo semakin jauh hari kita memesan harganya semakin murah, bisa sampe hanya IDR 35.000 loh. Cuma, namanya tiket promo kan non-refundable ticket, jadi kalau pas hari keberangkatan kita ada urusan mendadak dan ngebatalin tiket, uang kita hangus lah. Tiket Air Asia ini gw beli 2 minggu sebelum keberangkatan, sebelumnya waktu gw balik ke Jogja dari Bogor bulan lalu, gw beli tiket Lion Air H-3 sebelum keberangkatan harganya cuma IDR 270.000. Makanya kita mesti pinter-pinter nentuin waktu kalau mau cari tiket promo. Lalu penerbangan sore lebih murah daripada penerbangan sore karena penerbangan sore umumnya cuacanya kurang baik. Nah, kalau gw naik kereta api eksekutif kayak Bima dan Taksaka, budget yang gw keluarin sekitar IDR 190.000-220.000 dengan waktu perjalanan sampai di Stasiun Gambir 8 jam, belom ditambah buat KRL Pakuan Ekspress. Sedangkan naik pesawat dengan harga lebih mahal sedikit tapi lebih efisien karena hanya dalam 1 jam sudah sampai di Cengkareng.
Hari-H, kita memutuskan buat cari tumpangan sendiri-sendiri ke Bandara. Gw numpang sodara gw buat nganterin ke airport naik motor, daripada naik taksi keluar IDR 35.000, toh gw gak bawa bagasi ini. Sampe di Bandara Adisutjipto, check in, sholat dan bla bla bla, akhirnya kita boarding jam 16.30.

DSC00805

Air Asia menggunakan pesawat baru Airbus jenis A320. Umumnya maskapai penerbangan pake pesawat Boeing 737-400. Lion Air kemarin gw naikin pesawatnya Boeing 737-900 ER, pesawat keluaran Boeing terbaru juga. Nah, kebetulan gw kepingin ngerasain gimana rasanya naik Airbus. Secara umum sih sama saja, tapi bunyi mesin turbin Rolls-Royce pada A320 lebih halus dari bunyi mesin Boeing 737-400. Gw lebih suka bunyi mesin General Electric pada Boeing 737-400 karena suaranya lebih menggelegar.

DSC00821

Selama penerbangan, cuaca kurang bersahabat dan terkadang pesawat mengalami turbulensi. Dengan keadaan pesawat kurang stabil karena turbulensi, ditambah ibu-ibu yang duduk di sebelah gw zikir sambil pegang tasbih dengan sangat khusyuk, gw sempat was-was dan berprasangka buruk bakal ada apa-apa, untunglah pesawat mendarat dengan selamat dan sampai on-schedule.

DSC00830

DSC00832

Terminal 3! Akhirnya gw bisa ngerasain terminal baru di Bandara Soetta ini. Terminal yang baru selesai dibangun dan diresmikan bulan April 2009 ini memiliki arsitektur modern dengan konsep eco-futuristik, sebuah desain modern dengan konsep yang ramah lingkungan. Konsep desain yang sama dengan arsitektur Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Menurut gw, dari segi desain, terminal ini lebih bagus daripada desain KLIA. Terminal 3 ini baru dioperasikan 2 maskapai penerbangan, yaitu Indonesia Air Asia dan Mandala Airlines. Bangunan berbentuk huruf L, terdiri atas 2 lantai. Lantai 1 untuk Kedatangan dan Lantai 2 untuk Keberangkatan.

DSC00836

DSC00839
Turun dari pesawat kita berjalan masuk ke terminal dan langsung dihadapkan ke ruang Baggage Claim (Pengambilan Bagasi) yang dilanjutkan ke terminal kedatangan. Fasilitas yang sudah tersedia antara lain layanan Transit, Lost And Found, Information Centre, layanan internet dan layanan standar bandara pada umumnya. Kelebihannya disini ada fasilitas air minum gratis. Sayangnya tenant pengisi tempat makan disini masih sedikit, baru ada Circle-K, J.Co dan CFC. Gw yang waktu itu kelaparan karena belom makan akhirnya membeli nasi teriyaki di CFC dengan minum dari fasilitas air minum gratis, kere banget yaks! Akhirnya kita berpisah dengan pulang ke rumah masing-masing dan gw naik Damri ke Bogor.


Dimas Diajeng Teknik Sipil

April 23, 2009

Dalam memperingati Hari Kartini, di Teknik Sipil diadakan serangkaian acara yang bernama “All The Ladies”.

Salah satu rangkaian dari acara itu adalah pemilihan Dimas-Diajeng teknik sipil, semacam pemilihan Abang-None atau Mojang-Jajaka gitu, tapi ini cuma tingkat jurusan, jadi bukan acara besar juga lah. Dari 8 pasangan yang ikut berkompetisi, gw ikut sebagai salah satu peserta. Bagaimana ceritanya gw yang ga pernah tampil di muka umum ini bisa ikutan? Kita simak runtutan ceritanya di bawah ini.

Awal Mula

Semua berawal ketika UTS Statistika dan Probabilitas, UTS terakhir, selesai. Seorang teman sekelas yang bernama Hikmah sedang bete mukanya karena temennya yang lain, namanya Tata, nyuruh-nyuruh dia buat ikutan Dimas-Diajeng buat ngewakilin kelas B (kelas gw), sedangkan dia sendiri ga mau. Gw yang lagi lewat gitu tiba-tiba dikasihin kertas sama dia yang ternyata kertas formulir pendaftaran Dimas-Diajeng. Dan secara tiba-tiba (lagi) gw yang disuruh-suruh sama Tata buat ikutan.

“Van, kamu ikutan ya bareng Hikmah buat jadi Dimas-Diajeng ngewakilin kelas B?”

“Dimas-Diajeng?Semacam Abang-None gitu?”, jawab gua.

“Iya, ayo dong buat kelas B!!”

“Kenapa mesti aku (kalo ngomong sama orang non-Jabodetabek mesti pake aku-kamu), yang lain aja lebih cocok kayak c Mr. X”, bales gw lagi.

“Ayo dong, soalnya ga ada yang lain kamu sama dia sama-sama tinggi, jadi cocok,”

Gw yang tidak berminat, berkata, “Tuh, c Hikmah-nya ga mau, jadi ga usah ya…”.

Pembicaraan hari itu pun berakhir.

Hari Selasa, H+3 pasca obrolan di atas dan H-1 acara pemilihan Dimas Diajeng, gw pergi ke Toko Buku Toga Mas mencari kado ulang tahun buku bacaan. Di tengah asik-asiknya membaca, tiba-tiba c Hikmah nelpon nanya persiapan gw buat besoknya. Gw spontan bingung, besok apanya? Terus dijawab, “Dimas-Diajeng!!”. Oh sh*t!!! Gw yang jelas-jelas keberatan buat ikutan acara kayak gitu karena gw ga bisa ngomong di depan ditambah mendadak begini otomatis menolak matang-matang mentah-mentah. Tapi, c Hikmah terus memaksa ditambah temen-temen sekelas nyuruh-nyuruh, akhirnya gw pun meng-iya-kan secara ga langsung.

Persiapan

Dresscode-nya adalah Batik. Jadi, ga masalah buat gw, tinggal memakai Batik Pekalongan yang gw punya itu. Tapi c Hikmah ga punya dan dia ngajakin buat nyari batik ke Mirota Batik. Aduh, buat acara sekali aja pake beli, padahal di Mirota Batik harganya kisaran 80-200 ribuan. Akhirnya kita berangkatlah secara terpisah. Setelah sampe di Mirota Batik, dia sms, “Nanti jam 4 jemput di kostan ya, tadi dompetnya ketinggalan, hheee…”, Masya Allah….apa salah hamba-Mu ini ya Allah. Menunggu jam 4, gw yang udah di Mirota Batik pun melanjutkan saja ke dalam toko, mencari kado ulang tahun satu set Poker Wayang. Pada akhirnya karena ada bentrokan jadwal antara gw dan Hikmah, ga jadilah kita mencari batik bersama dan Hikmah pun mencari batik sendiri atau sama siapalah.

Hari-H

Semalam c Hikmah bilang masing-masing dari kita suruh buat 200 kata tentang diri sendiri dan tentang wanita zaman sekarang, ada di formulir pendaftaran. Bodohnya, tanpa membaca formulir, 200 kata yang harusnya diketik itu gw anggap sebagai bahan pidato, jadi gw cuma mengingat-ingat di kepala aja tanpa ditulis. Toh, gw lagi sibuk bikin Peta Kontur.

Paginya, gw jemput Hikmah di kostannya. Setelah tahu kalau 200 kata itu mesti diketik, keadaan jadi panik. Rencana diubah dari perjalanan ke kampus menjadi ke warnet. Saking buru-burunya, sambil ngetik, sambil ganti baju pake batik dan disisirin c Hikmah. Setelah selesai kita pun berangkatlah ke kampus. Di sini gw bener-bener ga ada persiapan, bahkan gw ga melampirkan piagam. Eh, tapi emang gw punya prestasi apa?

Acara diadakan di Ruang Sidang Biru JTSL FT UGM. Pada saat acara, kita kebagian nomor urut 2. Ga habis-habis dah Bad Luck gw tuh. Pasangan pertama nampilin puisi. Spontan kita yang punya persiapan buat apresiasi seni langsung panik. Secara dadakan, gw bikin aja semacam renungan tentang wanita (temanya tentang wanita), isinya gw ambil dari artikel yang gw pernah baca waktu SMA dulu.

Oke. Akhirnya kita maju. Pertama dimulai dengan perkenalan, presentasi tentang profil diri sendiri, prestasi dan dilanjutkan dengan apresiasi seni. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Lalu gw dan Hikmah diberi pertanyaan masing-masing. Gw dapet pertanyaan, “Apakah hubungannya lingkungan dengan manusia?”. Gw jawab aja dengan bla…bla…bla..yang jelas secara singkat, singkat sekali malah sampe MC-nya nanya, “Sudah segitu aja? Yakin?”. Secara keseluruhan penampilan kita lumayan baiklah. Setidaknya, tidak memalukan, menurut gw. Perkara menang c gw gak peduli. Syangnya, gw ga ikut acara sampai akhir. Soalnya seselesai kita tampil tadi bertepatan dengan waktu kuliah Kalkulus II. Dan gw lebih memilih ikut kuliah…..


Dari Busway Sampai Subway

April 19, 2009

Kalau anda orang yang senang jalan-jalan, atau orang yang sedang merantau, artinya meninggalkan hometown dan menetap di kota lain untuk suatu tujuan, harusnya anda sudah familiar dengan macam-macam kendaraan umum.

Gw sendiri senang jalan-jalan dan sedang merantau, meninggalkan rumah di Bogor dan menetap di tanah Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mewujudkan cita-cita dengan belajar di universitas perjuangan pertama yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia ini. Dari berbagai kota yang disambangi, banyak macam angkutan umum yang udah gw sambangin. Berapa macam yang pernah anda sambangi?


Kalau gw pergi ke Jakarta dari rumah (Bogor), paling sering naik Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Ekspress. Naiknya di Stasiun Bogor dan turunnya biasanya di Stasiun Gambir atau Stasiun Kota tapi lebih sering ke Stasiun Kota. Keretanya eks Jepang, selain nyaman, ber-AC, Pakuan Ekspress yang namanya juga kereta ekspress cuma berhenti di beberapa stasiun jadinya perjalanan lebih singkat. Dengan tarif Rp 11.000,00 dari Stasiun Bogor bisa sampe Stasiun Beos (Stasiun Kota) dalam 1,5 jam. Di Jogja sendiri ada juga kereta ekspress semacam Pakuan Ekspress, namanya Prambanan Ekspress tapi biasa disebut Prameks. Prameks melayani jalur dari Purworejo-Yogyakarta-Solo dengan harga tiket Rp 7.000,00. Prameks juga lewat Stasiun Maguwo jadi kalau kita mau ke bandara dari Jogja atau sebaliknya bisa juga naik ini. Tapi kereta ini bukan KRL tapi KRD (Kereta Rel Diesel), maklum jalur kereta dengan tenaga listrik baru ada di Jabodetabek. Selain itu, meskipun sama-sama ber-AC, gw rasa Pakuan Ekspress lebih nyaman.

Nah, kalau menyusuri Jakarta pasti gw naik Busway lah. Semua orang pasti tahu Transjakarta Busway atau yang biasa disebut Tije ini. Dulu waktu pertama kali dioperasikan, Busway yang merupakan BRT (Bus Rapid Transit) ini dapat tanggapan negatif dari orang-orang karena dinilai tidak efektif sebagai solusi permasalahan transportasi, tapi sekarang justru banyak diminati orang-orang karena selain murah (tiket seharga Rp 3.500,00 dan Rp 3.000,00 untuk peak hour), nyaman, headway yang cepat dan stabil, juga kelancarannya terjamin karena Busway punya jalur sendiri (Bus Priority). Dari 1 koridor dibangun pada awalnya, sekarang udah dibangun 10 koridor, 8 koridor sudah operasional dan 5 koridor akan dibangun, menghubungkan Jakarta dengan daerah penyangga kayak Bekasi, Tangerang, Depok, UI. Sampe sekarang, gw baru pernah naik Busway di Koridor I, II dan III, yang paling sering Koridor I karena emang seringnya gw ke daerah Sudirman-Thamrin. Biasanya dari Bogor naik Pakuan Ekspress trus disambung Busway koridor I.

Di Jogja juga ada BRT kayak Transjakarta Busway, namanya Transjogja. Transjogja yang merupakan buah hasil kerjasama dari Pemprov DIY dan MSTT JTSL FT UGM (Magister Sistem Teknik Transportasi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada) ini punya beberapa perbedaan dengan Busway. Transjogja bukan angkutan jenis Bus Priority jadinya ga punya jalur sendiri dan mixed traffic dengan kendaraan lainnya. Sistem trayeknya sama-sama Hub And Spoke, tapi untuk Transjogja ga berupa koridor-koridor lurus tapi berupa jalur pelayanan lewat daerah-daerah tertentu. Gw kadang-kadang memanfaatkan Transjogja ini untuk bertransportasi. Salah satunya waktu mengerjakan tugas laporan tentang bangunan transportasi. Waktu itu gw memantau Moda Transportasi Terpadu di Bandara Adisutjipto. Berangkat dari Halte Kopma UGM, turun di Halte Adisutjipto. Halte ini salah satu bagian dari Moda Transportasi Terpadu selain Stasiun Maguwo yang melayani jalur Prameks. Halte dan stasiun ini dihubungkan ke terminal bandara dengan sebuah underpass. Jadi kalau dari bandara ke kota atau sebaliknya, kita bisa langsung naik Transjogja atau Prameks. Kelemahan dari Transjogja ini ada pada headway antar bus yang lama. Maklum, Transjogja ga punya jalur sendiri. Tapi dengan nyaman kita bisa bepergian sambil liat pemandangan kota Jogja. Alon-alon waton kelakon.


Waktu ke KL (Kuala Lumpur) dulu, gw sempat mencoba naik KLIA Ekspress, kereta bandara yang menghubungkan KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dengan kota KL. Nama stsiun di kotanya kalo ga salah Stesen Sentral Kuala Lumpur. Harga tiketnya cukup mahal sih, gw juga udah lupa berapa, tapi lumayan lah dengan service yang diberikan. Keretanya berjalan dengan halus tanpa goncangan, interiornya mirip kereta api bisnis dengan seat saling berhadapan, masing-masing dilengkapi LCD TV untuk advertisement. “Perjalanan memakan waktu 28 minit”, kata operatornya dan sepanjang perjalanan dilihatkan pemandangan kebun kelapa sawit yang statis. Di kotanya sendiri angkutan massal menggunakan Monorail, namanya KL Monorail. Waktu itu gw nyoba naik dari Stesen Ampang, dekat Petronas Tower dan turun di Stesen Bukit Bintang (bukan Bukit Bintang di Wonosari loh!). Sepanjang perjalanan, gw bisa melihat pemandangan kota dari kereta layang itu. Harga tiketnya kalau ga salah sekitar 2 RM. Bagaimana dengan Jakarta? Tiang-tiang pancang proyek JM (Jakarta Monorail) yang terlantar itu gw harap bisa dilanjutkan lagi hingga selesai sehingga warga Jakarta juga bisa menggunakan Monorail untuk berpergian.


Anda tahu MRT(Mass Rapid Transport)? Dari negara-negara di ASEAN ini, hanya Singapura yang punya MRT yang biasa disebut Subway atau kereta bawah tanah ini. Gw pernah nyoba naik Singapore MRT dari Orchard Road ke Marina Bay dan ke Fullerton, dimana terdapat teater Esplanade yang terkenal itu dan Patung Merlion yang jadi ikon Singapura itu. Beli tiketnya lewat vending machine dan harganya berkisar antara 2$-3$ Singapore Dollar, tergantung jarak yang ditempuh. Naik subway bagi gw kurang menyenangkan karena sepanjang perjalanan ga bisa liat pemandangan.

Ada lagi pengalaman naik kendaraan umum jarak jauh, tapi nanti gw bahas di post selanjutnya.


ROBOT AND ROBOTICS

February 22, 2009

dsc00561

Ini hanyalah sebuah sebuah post ringan yang iseng gw buat tentang pameran robot yang ada di Taman Budaya Yogyakarta. Bukan pameran skala besar sih, yang dipamerkan juga nggak banyak, tapi bagi gw cukup interest karena karya-karya di sini cukup unik.
Kalo yang namanya pameran di Taman Budaya, biarpun judulnya “Robot Robotics” , pasti isinya benda-benda berbau seni. Gw juga ga mengharap isinya robot-robot canggih. Setelah gw liat, di situ dipamerkan macam-macam action figure tentang robot. Karakter robot mainan macam Gundam, Transformer, Minibots pastilah ga diragukan keberadaannya di sini. Banyak etalase yang majang robot-robot karakter buatan Amerika, Jepang bahkan dalam negeri. Yang menarik, gw liat ada robot dari bahan daur ulang dari kotak bekas lem dan susu, yah sebuah seni rupa lah. Lumayan unik. Ada juga patung sosok Kamen Raider, ya kalo jaman gw kecil sih namanya Satria Baja Hitam. Lain-lainnya pajangan artikel tentang robot dan lukisan-lukisan robot berukuran besar lengkap dengan deskripsinya sesuai imajinasi sang pelukis.

dsc00560
Intinya adalah pameran ini termasuk pameran seni, yang mengangkat tema tentang robot. Unsur utama di sini yang ditekankan bukan dari sisi science-nya, tetapi ruang imajinasi kita dan fantasi tentang robot itu sendiri. Lukisan-lukisan tentang robot ditampilkan imajinatif. Pelukis menunjukkan habis-habisan daya imajinasi dari lukisannya tentang robot. Ada lukisan berjudul “Pregnancy”, tentang robot pengganti manusia dalam mengandung bayi. Ada juga lukisan robot tempur yang bentuk aslinya adalah mesin pencetak koran. Yah konsepnya sama kayak Transformer gitu lah.
Pameran ini menyasar pengunjung untuk semua umur. Emang c pameran seni ga pake rating macam 17+, tapi kalo anak-anak dibawa ke pameran lukisan abstrak atau seni ukir abstrak, pasti bawaannya bete kan? Nah, di pameran ini banyak dikunjungin keluarga dengan anak-anaknya yang masih kecil. Ga mendominasi, tapi banyak. Sisanya, para remaja yang robotic freak dan minoritas pengamat seni. Setelah gw liat-liat, ternyata pameran ini juga kerjasama dengan LPKTA UGM, sebuah BSO Fakultas Teknik UGM. Yah, persis kayak KIR waktu SMA lah.

dsc00564

Pameran ini sebenernya wajah salah satu industri kreatif modern yang akhir-akhir ini lagi berkembang di negara kita. Mengenai industri kreatif ini menarik banget bagi gw. Industri yang ga mengutamakan formalitas dan seragam dalam bekerja, industri di bidang yang bagi orang umum dianggap sebagai hobi, dapat menghasilkan keuntungan besar dan membantu pendapatan daerah. Gw juga kepingin sih berkecimpung di industri kreatif, di bidang desain loh, meskipun perkembangannya masih jalan di tempat. Kakak gw ahli punya hobi di bidang fotografi, dan gw interest di bidang desain-desain grafis. Ya kayak blog ini yang tampilannya bolak-balik gw ganti padahal postingannya masih kurang berkualitas. Gw pikir bagus juga blog ini didesain dan orang juga akan tertarik. Tapi, ya itu, gw berhenti di situ. Kesenangan itu masih tertahan di desain-desain ini.